Entri Populer

Kamis, 28 Juli 2011

Potensi Wisata Jeram Ciliwung (susur KPC 23 Juli 2011)













Foto&Tulisan: Sudirman Asun

“Dulu tahun 80′an tukang rakit Bojong selalu membawa dagangan bambu nya melalui Ciliwung untuk dijual di Pasar Minggu, 1 orang bisa sampai membawa 6 rangkaian rakit dan dibawa berkonvoi dalam kelompok beberapa orang.

Sekarang 1 orang bisa membawa 3 rakit saja sudah jago, sungai Ciliwung bertambah dangkal dan terjadi penyempitan sungai membuat medan sungai semakin sulit.” percakapan kami dengan bang Udin Jibrut dan tetua di kampung Glonggong Bojong Gede inilah yang menambah ketertarikan Komunitas Peduli Ciliwung untuk mencoba susur lanjutan dengan mencoba mempergunakan perahu rakit bambu buatan pengrajin bambu Bojong Gede.

Agenda susur Lanjutan yang sedianya dilakukan awal bulan Agustus dimajukan menjadi Tgl. 23 Juli 2011, disesuaikan dengan teman-teman yang akan mengadakan ibadah puasa pada bulan Ramadhan.

Walaupun persiapan telah dilakukan dengan matang, rupanya pas hari-H nya kami mendapati banyak kekurangan dalam pengetahuaan kami tentang rakit bambu dan perhitungan musim kemarau yang otomastis mengurangi jumlah debit air di sungai menjadi lebih dangkal.

Persiapan dengan memesan pembuatan rakit bambu 2 minggu sebelumnya, ternyata bahan bambu yang kami pergunakan masih termasuk hijau dan belum kering. Tingkat kekeringan bambu ini sangat mempengaruhi daya apung rakit di air.

Banyaknya sambutan antusias para peserta untuk ikut tidak sebanding dengan jumlah rakit yang disediakan sebanyak 5 unit dan 1 perahu kano membuat acara susur di rakit dinaiki bergantian lewat rakit di air dan susur lewat jalan kaki di darat oleh para peserta.

Peserta susur rakit kali ini menyatu dari Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) dari Bogor, Komunitas Ciliwung Bojong Gede dan KPC Depok yang baru terbentuk serta Komunitas Ciliwung Condet.
Inilah daftar peserta susur rakit: Hapsoro (Komandan Susur), Hari Kikuk (data dan pemetaan), Rita Mustikasari (Program Air Telapak), Marine (mahasiswa asal Prancis), Vega Probo (Majalah Traveler), dari media kantor berita Kota Hujan hadir Agung dan Unisutiah, dari Jakarta Glue hadir Augusitina K.Priyanto (LPMJ) dan penggiat lingkungan Yayasan Lantan Bentala tercatat Evelyn Suleeman (Dosen Sosiologi UI ) dan anak didiknya Vieronica (Mahasiswi S2 Sosiologi UI ) dengan teman nya Edi, sedangkan pasukan rakit dan team SAR diawaki oleh pasukan Komunitas Ciliwung Bojong Gede (Husen, Udin Jibrut, Andre, Maulani CNB) dan pasukan Komunitas Ciliwung Condet (Abdul Kodir, Abdul Basid Dudung, Epi, Alex, Abdul Somad dan Edi).

Titik start susur dimulai dari desa Glonggong Bojonggede dibawah jembatan Pagersi.
Acara dibuka dengan peresmiaan terbentuknya Komunitas Ciliwung Bojonggede yang direstui oleh tetua desa pak Haji Yusuf dengan penanaman pohon langka yang sengaja dibawa dari Hutan Kota Condet yaitu pohon Lobi-lobi, Nam-nam, Tembolok, Jamblang, Gohok, Pucung, Duku, Salak, Gandaria dan Jingjing.

Penanaman pohon langka dibantaran ini bermaksud agar tetap menjaga kelestariaan daerah Bojong yang terkenal akan kekayaan potensi hutan bambu nya.

Walaupun terlihat masih asri dengan hutan bambunya, kawasan Ciliwung Bojong mulai terjadi kerusakan fatal dan penurunan ekosistem sungai oleh para tukang tuba/ peracun ikan. Kegiatan penuba ikan ini biasanya dilakukan oleh orang luar yang tidak bertanggung jawab yang dilakukan secara berkelompok dengan racun potasium dalam dosis besar dan dilakukan pada malam hari.

Diharapkan dengan berdirinya Komunitas Ciliwung Bojonggede ini sosilisai bahaya racun potasium bagi ekositem sungai dan pelarangan kegiatan menuba ini dapat dilakukan.

Keindahan Ciliwung Bojong sampai memasuki daerah Cilebut dengan kerimbunan hutan bambunya dan tantangan jeram nya yang seru membuat kami sangat menikmati kegiatan ini, banyak pelajaran dari alam dan kearifan lokal warga Ciliwung Glonggong yang menarik hati kami untuk kembali ke tempat ini.
“We can adventure not far from the city, that so fun.” Ujar Marine, mahasiswa asal Prancis yang mengikuti susur ciliwung.

Walaupun dengan susah payah membawa rakit dengan debit air yang dangkal oleh kemarau, disisi lain kemarau justru memberikan keindahan tersendiri karena membuat air Ciliwung terlihat jernih walaupun kami masih mendapati beberapa gunung sampah di daerah Puspa Raya.

Potensi Ciliwung dengan wisata Jeram dan keindahan Hutan Bambunya, kami berharap untuk ke depan lebih bisa diangkat untuk menggerakan perekonomian masyarakat lokal di sekitar bantaran Ciliwung.

Sesuatu hukum yang pasti, bahwa manusia pasti akan menjaga sesuatu yang bisa menghidupi dan memfasilitasi mereka, seperti mereka menjaga hutan bambu yang menjadi tumpuaan perekonomian mereka.

Susur kali ini berhasil memetakan dan mendata Ciliwung dari daerah Glonggong, Kedung Jiwa, Cibabi, Gandaria, Kedung Bokor, Kedung Cewug, Puspa Raya, meliputi Kelurahan Gedung Waringin, Kel. Sukahati, Kel. Pabuaran dan finish di intake PDAM Tirta Kahuripan kota Bogor di Jalan Pemda.

Seri Tahun Kunjungan Wisata Ciliwung
Laporan dan Foto:
Sudirman Asun














Rabu, 20 Juli 2011

Pencarian Lembah Subur Sungai Cimanuk (Ekpedisi Cimanuk oleh Telapak 10-16 Juli 2011) bag. 1


Pencarian menjelang sore,Istirahat di dataran tinggi Cikajang Pameungpeuk



Pencarian dari Bayombong-Cikajang menyesatkan kami hingga menembus di daerah dataran tinggi menuju Pameungpeuk, yang menjadi hulu sungai Cisanggiri yang bermuara di pantai Selatan Jawa.



Tuan rumah dengan keramahan khas penduduk desa Indonesia, yg membolehkan kita menumpang nginap, ketu RW Desa Simpang. Cikajang



Pencarian titik nol hulu Cimanuk dari Bayombong



Team Susur Ekspedisi Cimanuk



Jembatan Bayombong sungai Cimanuk Garut Selatan.



Foto dan Tulisan Sudirman Asun

Pergilah ke arah matahari terbenam dan carilah lembah Sungai Cimanuk. Manakala telah disana, berhentilah dan tebanglah belukar secukupnya untuk mendirikan pedukuhan dan menetaplah disana. Kelak tempat itu akan menjadi subur dan makmur serta tujuh turunanmu akan memerintah disana“, amanat yang diterima Raden Aryo Wiralodra/ pangeran Dermayu dari Kerajaan Mataram sebagai misi khusus, menjadi sepenggal sejarah yang sangat menarik perhatiaan teman kami mas Hapsoro dari Telapak untuk mencoba menjelajahi aliran sungai Cimanuk.

Cimanuk dengan kesuburannya telah menjadi garis depan peperangan antara Kerajaan Pajajaran dengan Kerajaan Mataram. Disitu terjadi percampuran budaya antara orang Sunda dan Jawa yang saling melengkapi, menjadikan satu budaya dan sejarah baru.

Setelah disepakati bersama, akhirnya teman-teman dari Telapak menyetujui melakukan ekspedisi kecil-kecilan susur sungai Cimanuk yang dilaksanakan dalam jangka waktu 6 hari (10-16 Juni 2011), susur dilakukan dengan berkendaraan Land Rover keluaran tahun ‘63.

Anggota susur berjumlah 8 orang terdiri dari Hapsoro komandan susur, Yoyon Kolor Ijo sebagai Driver dan penjajakan track perahu kano, Achmad Dicka Logistik dan Navigator, Rita Mustikasari pemerhati dan peneliti penguna air, Hari Kikuk dan Andi Juanda untuk pemetaan dan pendataan, Anggitane Ironogo dari media kantor berita Kota Hujan dan saya sendiri sebagai tim pengembira.

Sungai Cimanuk sebagai salah satu sungai terbesar di Jawa Barat, membujur dari Selatan hingga ke Utara Jawa Barat, membentang gagah memotong dari Selatan Kabupaten Garut Jawa Barat, membelah Kota Garut melewati Kab. Majalengka, hingga bermuara di Kota Indramayu Pantai Utara Jawa.

Namun hanya sedikit sekali data dan informasi tentang sungai Cimanuk yang bisa kita peroleh. Karena panjangnya sungai dan terbatasnya waktu, susur dilakukan secara global mengambil titik potongan sungai tertentu yang kami anggap penting seperti hulu, tengah, dan hilir muara.

Data tentang Cimanuk yang terbatas dan sedikitnya info yang diterima dari minim nya pengetahuaan tentang sungai oleh penduduk lokal serta penamaan nama sungai yang bersifat lokalitas, menjadikan pencariaan titik hulu sebagai titik nol sebagai hal tersulit pada hari pertama susur. Gambaran peta besar yang kami bawa hanya memperlihatkan hulu sungai berasal dari 2 aliran yaitu pegunungan Cikuray dan pegunungan Papandayan.

Pencarian dari Bayombong-Cikajang menyesatkan kami hingga menembus di daerah dataran tinggi menuju Pameungpeuk, yang menjadi hulu sungai Cisanggiri yang bermuara di pantai Selatan Jawa.

Pencariaan sampai menjelang malam itu, membawa kami ke satu tempat bernama Kampung Cimanuk, dari kampung Cimanuk inilah kami memperoleh informasi yang pasti bahwa letak salah satu hulu sungai ada di desa Simpang daerah Cikajang.

Pencariaan desa Simpang itu ketemu menjelang jam 8 malam, dan akhirnya diputuskan kita bermalam di desa Simpang, beruntung kita diterima dengan ramah menumpang di rumah keluarga pak Empud ketua RW desa Simpang.

Bersambung…….