Entri Populer

Kamis, 27 Oktober 2011

Styrofoam dan Sampah Plastik Mengerogoti Ciliwungku, Susur Ciliwung Lanjutan 11 Juni 2011

Foto Dan Tulisan: Sudirman Asun

Miris, itulah perasaan yang makin terasa sewaktu susur makin hari semakin ke hilir.
Ciliwung semakin ke hilir semakin terlihat seperti selokan dan tempat sampah besar.

Miris karena melihat para penguasa dan pemangku kepentingan yang mempunyai power dan kekuasaan ,tidak membuat suatu kebijakan berarti untuk berusaha melakukan penyelamatan Ciliwung yang sudah kritis.
Miris, melihat begitu hebatnya sampah STYROFOAM dan sampah kantongan plastik mencemari Ciliwung.

Sampah ini hampir menutupi tiap sudut dari Ciliwung, tidak ada yang terlewatkan, dari mulai badan sungai, bantaran hingga yang tersangkut ke pohon pohon pinggir bantaran layaknya hiasan pohon Natal.

Sampah STYROFOAM terbanyak adalah bersumber dari wadah makanan dan wadah dari mie instan, sedangkan kantongan plastik lebih beragam mulai dari kemasan jajanan anak-anak, kemasan bungkusan mie instan, kantong kresek, karung plastik, bungkusan makanan keluaran industri lainnya.

Kemasan STYROFOAM sekarang sedang digemari para produsen makanan baik yang berskala industri maupun penjual kaki lima dengan alasan lebih bersih, murah (harga dibawah Rp 500,-/kemasan)dan praktis.

Padahal pemakaian bahan ini sebagai wadah makanan jelas mengancam kesehatan penggunanya dalam jangka panjang karena kandungan bahan beracun di dalamnya, juga bahan ini sangat tidak ramah lingkungan.

Dalam foto yang kita ambil juga terekam sampah kemasan STYROFOAM dari salah satu restoran makanan Jepang cepat saji yang baru-baru ini mengklaim dirinya pelopor kemasan ramah lingkungan, stelah mereka menambahkan OXYUM ke dalam wadah STYROFOAM produk mereka, mereka mengklaim wadah mereka akan terurai oleh alam dalam jangka waktu 4 tahun.

Saya kembali mempertanyakan kinerja KLH, Kementriaan Industri dan Perdagangan, Kementriaan Kesehatan dan yang terakhir, benteng yang seharusnya bisa membela hak konsumen seperti YLKI.

Susur kali ini merupakan lanjutan dari titik terakhir susur sebelumnya yang dilakukan oleh teman-teman Komunitas Peduli Ciliwung (KPC Bogor) yaitu start dari bendungan Cibagoloh Sempur Ujung.

melewati kelurahan Bantar Jati, Tanah Sereal, Pasar Induk Jambu Dua,Kedung Halang, Kedung Badak, Suka Resmi dan berakhir di daerah Cilebut.

Seperti susur-susur sebelumnya, kami masih harus terbiasa memergoki orang yang buang hajat di daerah sungai yang terbuka, setidaknya saya menghitung kepergok 6 warga yang sedang asyiknya melakukan aktivitas penting ini sepanjang susur kemarin.

Begitu juga dengan privatisasi dan pencaplokan hak publik atas bantaran sungai terlihat makin menjadi-jadi mulai dari rumah mewah pribadi sampai kompleks perumahan, diantaranya komp perumahan MY RESIDENT Ceremai di daerah Bantar Jati sampai komp Perumahan yang baru akan dibangun di daerah Suka Resmi yaitu perumahan Sinar Resmi Grande.

Beberapa gunung sampah dari yang kecil sampai besar dengan ketinggian sampah 10 M, dan lebar sekitar 6-8 M. Gunung sampah terbesar ditemui di kelurahan Kedung Halang dan daerah Cilebut.

Pemandangan bagi saya yang cukup menajubkan adalah pipa intake bahan baku PDAM yang bersebelahan dengan gunung sampah kecil, saya tidak bisa membayangkan bagaimana pihak PDAM bisa melakukan penyedotan air baku Ciliwung dengan kondisi gunung sampah yang terletak langsung disamping bantara pipa penyedotan, walaupun itu dibatasi dengan saringan penghalang.

Mudah-mudahan dengan kegiatan susur ini bisa membuka mata kita tentang permasalahan sebenarnya dari Ciliwung, sehingga bisa diambil kebijakan dan penyelesaiaan secepatnya.




Pemandangan Ciliwung Bantar Jati


Indahnya Ciliwung Mengikat Hati Kami Untuk Terus Membela dan Menjaganya


Sampai Kapan Keindahan Ini Akan Bertahan..?


Miris Melihat Bantaran Sampah Menjadi Tempat Sampah Raksasa


Ciliwung Dari Ketinggian Bantaran


Kelokan Ciliwung yang Berliung- liung.




Privatisasi Pencaplokan Bantaran Ciliwung oleh Komp. Perumahan My Resident




Privatisasi Pencaplokan Bantaran Ciliwung oleh Rumah Mewah Pribadi Dan Tersedia Pintu Pembuangan Langsung Ke Sungai Ciliwung




Alih Fungsi Lahan Terus Mengancam Lahan Terbuka Hijau Bantaran, komp perumahan Suka Resmi Grande


Kelokan Ciliwung


Pemanfaatan Sungai Sebagai Keramba Ikan, Degan Resiko Kematiaan Ikan Yang Besar Jika Dari Hulu Sering Ada Pembuangan Limbah Industri Secara Tiba-Tiba



Pencemaran sampah Styrofoam


Kemasan Makanan Styrofoam


Gunung Sampah Kedung Halang


anak-anak, ya… namanya anak-anak. biarpun segimana kotor dan tercemarnya sungai, bagi mereka semua tempat adalah tempat bermain yang seru


Intake air baku PDAM Kedung Halang dengan tumpukan sampah disebelahnya


Ciliwung Suka Resmi


Badan sungai menjadi lautan Styrofoam dan sampah plastik.


Kemasan styrofoam Hoka Hoka Bento yang turut mencemarkan perairan.
Hokben mengklaim kemasan styrofoam mereka ramah lingkungan, setelah menambahkan oxyum pada bahan kemasan, dan mereka mengklaim kemasan mereka akan terurai dalam 4 tahun.

padahal kita tau styrofoam lebih andal bertahan lebih dari 1000 tahun untuk terurai, biarpun 4 tahun tetap tidak akan terkejar oleh kuantitas output sampah harian mereka


Melihat Pemandangan Ini, Masikah Kita menggemari Kemasan Makanan Styrofoam..?


Gunung Sampah Cilebut

Selasa, 25 Oktober 2011

Jorok dan Egoisnya Warga Ciliwung, Susur Lanjutan 7 Mei 2011




Ciliwung Suka Sari


WC paling mewah sedunia…


Semua perabot rumah tangga ada di Ciliwung, tempat sampah raksasa.


Bangunan pemukiman sampai tepi tebing bantaran yang curam. Terlihat sangat membahayakan keselamatan jiwa penghuninya karena sangat rawan longsor.


Gunung-gunung sampah baranangsiang


Gunung sampah Ciliwung Baranangsiang.


Meriam produksi bakteri Coli Ciliwung, fresh from Oven. Bikin ill feel untuk makan siang


Tempat pembuangan sampah rumah tangga Ciliwung Suka Sari.



Beristirahat sejenak di jembatan Suka Sari.


sampah dan sampah melulu.



Aliran pembuangan limbah rumah tangga langsung menuju Ciliwung.


Melewati medan yang cukup sulit, harus ekstra hati-hati.


Terlihatkah sesuatu di foto ini..? Test kejeliaan mata…..


Sungai tempat semua kegiatan, ya mandi, ya BAB, ya mencuci.



Prihatin sungai sebagai tempat pembuangan sampah.



Keuniakan geografis pulau Delta Ciliwung Pulo Geulis Pasar Babakan.


Delta Pulau Geulis, membuat Ciliwung menjadi bercabang. Salah satu keunikan pulo Geulis Babakan Pasar.


Sambutan ramah Vihara/ kelenteng Maha Brahma (Pan Kho Bio) Pulo Geulis.



Keramah Tamahan Pulo Geulis, bersama pak Bram (Bram Abraham Halim)


makam tokoh agama Islam Mbah Sakee di dalam komp. kelenteng (Pan Kho Bio)


Pohon Langka Raksasa bantaran Ciliwung Kebun Raya, Mantap nich Pohon, bisa memberi oksigen berapa ribu orang ya…?


Jalan setapak sepanjang bantaran Ciliwung Kebun Raya Bogor, mantap.. Pengelolaan ruang publik bantaran yang ideal.


Tim Susur Komunitas Peduli Ciliwung


Curahan Hati Ciliwung…!, Menjadi Azab Bagi Warganya Jika Tak di Dengar….

Foto dan Tulisan: Sudirman Asun
Susur kali ini melewatin percis perkotaan Bogor, melewati daerah Baranangsiang, Sukasari, Pulo geulis Pasar Babakan, Kebun Raya, dan Sempur.

Pengalaman menjijikan dialamin susur kali ini, karena kita pas susur sungai di badan sungai pagi hari dimana nasabah lagi rame-ramenya ngantri di wc umum di bawah pemukiman warga di bantaran setinggi 5-10M, kita dihujani tembakan meriam berisi kotoran dari wc pribadi maupun barisan wc umum yang berderet sepanjang sungai.
Sistem sanitasi wc hampir semua di bantaran tanpa melewati septic tank, membuat kotoran langsung jatuh ke sungai tanpa terolah dahulu mencemari air sungai dengan bakteri Coli.

Susur kali ini juga banyak berpapasan dengan warga Ciliwung yang kepergok sedang memberikan hadiah bingkisan sampah buat sungai Ciliwung dengan cara dilempar.

Pulo Geulis Permukiman asimilasi orang Tionghoa tertua di Bogor.

Hal menarik dalam susur kali ini, ketika kita bershilaturami dan diterima dengan ramah tamah di Vihara/ kelenteng Maha Brahma Pan Kho Bio yg merupakan kelenteng tertua di Bogor.

Teman-teman KPC sendiri telah akrab dan sering berkunjung di kelenteng ini dan mempunyai hubungan cukup dekat dengan pengelola kelenteng dan tokoh masyarakat Bram Abraham Halim.
Kelenteng ini tercatat sudah ada pada beberapa catatan kuno perjalanan eksprolasi terkenal antara lain :
1. Catatan Sersan Scipio
2. Catatan Adolf Winker 1687
3. Catatan Abraham Van Reback 1704

Pulo Geulis sendiri merupakan pulau/delta di tengah sungai Ciliwung.
Menurut pak Bram Abraham Halim, seorang tokoh masyarakat asli Pulo Geulis dengan akrab menceritakan sejarah delta tersebut yang mempunyai ikatan sejarah Ciliwung dengan kerajaan Pakuan Pajajaran.
Disini terjadi asimilasi tertua di Bogor antara orang Tionghoa dengan orang Sunda.

Di dalam kelenteng sendiri terdapat makam beberapa tokoh-tokoh agama Islam seperti Uyut Gebog, eyang Sakee dan Raden Jayadiningrat, sehingga tidak diherankan jika pada tanggal-tanggal tertentu kalender Islam banyak penjiarah-penjiarah muslim yang mengadakan pengajiaan, dan asimilasi serta toleransi beragama berjalan mesra dan damai di sini selama ratusan tahun lamanya.

Adanya Kearifan lokal yang mesti digali dan dihidupkan kembali adalah budaya prosesi penyuciaan Barongsai oleh aliran sungai Ciliwung oleh warga Tionghoa setiap tahun baru Imlek hari ke-9 (Che Khau) sebelum diarak pada Cap Go Mei (hari ke-15 tahun baru Imlek). Namun hal ini tidak dilakukan lagi sekarang karena kotornya aliran Ciliwung pada saat ini.

Perjalanan cukup menyenangkan ketika susur melewati Kebun Raya Bogor, pengelolaan bantaran sungai yang cukup ideal dengan pepohonan langka raksasa nan rindang serta jalan setapak mirip joging track alami sepanjang bantaran Ciliwung Kebun Raya Bogor.

Perjalanan susur berakhir dengan disambut hujan lebat sepanjang Sempur sampai Sempur Ujung Bendungan Cibagoloh.