Entri Populer

Kamis, 30 Agustus 2012

Selamat Hari Raya Idul Fitri


Seperti sungai tak pernah lupa
akan jalan kembali "pulang" menuju samudera

Dengan Keikhlasan
memberi kehidupan semua tempat yang dilaluinya....


Selamat Hari Raya Idul Fitri
1 Syawal 1433 H

Mohon Maaf Lahir dan Bathin.....

Keluarga Besar Komunitas Ciliwung



foto : Ciliwung Masjid Istiqlal


Komunitas Ciliwung dari hulu-hilir mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri, bersama kita bangun kebiasaan baru untuk kemenangan dan mewariskan kebenaran untuk anak cucu kita.












Jumat, 17 Agustus 2012

MERDEKA…!


Apakah kita sudah merdeka dalam arti sesungguhnya…?
67 tahun kita merdeka, tapi tujuaan dan cita-cita dari didirikannya negara Republik Indonesia masih jauh harapan dengan kenyataan….

Apa yang salah dengan negara kita..?
Kesenjangan sosial yang kian menganga, keadilan hanya milik yang berani membayar…
Sumber daya alam dikeruk massif oleh perusahaan asing, korporasi kapitalis tanpa tetesan hasil yang memadai buat mengangkat kesejahteraan sosial.
Sebaliknya, yang lebih sering kita saksikan adalah konflik, tawuran, dan amuk massa yang menelan korban jiwa tidak sedikit.
Pancasila tinggal pajangan di dinding sekolah dan perkantoran…, 5 sila hanya hafalan kosong dalam pelajaran sekolah yang kemudian dilupakan… 
Pancasila disisihkan dari kehidupan berbangsa-bernegara—digantikan dengan individualisme-liberalisme yang membentangkan karpet merah bagi kapitalisme—kini kita saksikan dengan kasatmata terkikisnya nilai-nilai luhur budaya bangsa.
Sebutlah seperti kekeluargaan, persaudaraan, gotong royong, toleransi, dan norma etika ketimuran.
 

PEMBUKAAN UUD 1945
“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu,
maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

 “Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.”

 “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.” 

“Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial,
maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada :
Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”

 
MERDEKA…! 
DIRGAHAYU 67 TAHUN KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA

Senin, 13 Agustus 2012

Ciliwungku Hari Ini


(Oleh : Nur FaizahRasyid Sekolah Alam Ciliwung )

Hari minggu yang cerah di akhir bulan Juli yang ceria. Sorak sorai kemeriahan menggaung dari Sabang sampai Merauke.
Tak terkecuali di Jakarta.

Ramainya takbir yang penuh haru berbaur dengan bisingnya pasar kaget yang tumpah ruah di setiap sudut Kota Jakarta.
Riuhnya Jakarta yang sibuk pun menutupi suara tangis lirih di ujung jalan..

Bukan tangis bahagia menyambut Ramadhan.
Ini tangisan kepedihan, rintihan patah hati yang begitu lirih hingga tak sampai menggetarkan gendang telinga.

Yang menangis adalah Ciliwungku.
Ciliwungku yang sedang sakit. Raga dan jiwa nya terluka..

Raganya terluka oleh limbah yang membuatnya menghitam.
Terluka oleh sampah yang menggenang di permukaan nya..
Terluka oleh kerakusan para pengusaha yaang memperkosanya sedemikian rupa.
Terluka oleh petinggi negara yang menjadikannya kambing hitam proyek-proyek yang menggembungkan kantong mereka!

Ia merintih pilu menyenandungkan kenangan masa lalu.
Kala keanggunannya membuatnya seperti seorang ratu..
Kenangan kala kegagahannya bagai prajurit yang menang dalam perang!

Namun kini jiwanya terguncang, ia sedang patah hati.
Di tatapnya manusia-manusia yang dicintainya satu-persatu hilir mudik di sisinya tanpa menghiraukan keberadaannya.
Tak jarang mereka memandang jijik ke arahnya!
Memandang Ciliwungku dengan enggan!
Hey, manusia-manusia sombong! Tak sadarkah kamu, kalau kamu yang melukaiku? Tak sadar bahkan dalam kesakitanku kamu masih membutuhkanku!
Teriakan Ciliwungku yang malang tak ditanggapi.

Ciliwungku terluka. Ia merintih sendiri dalam duka..

Diujung matanya menangkap bayangan matahari yang mulai meredup.

Dihatinya tersisip harapan kecil yang mulai bertunas, kala ia melihat kami berkumpul disisinya untuk mengobati luka hatinya.
Ia sadar, ia tak sendiri.
Ada kami, segelintir orang yang tetap mencintainya.
Ya, ia belum mau mati, ia akan bertahan..

Ooh Ciliwungku..
Ia memang tak secantik dulu..
Keriput-keriput tua sudah mulai mengganggu keelokkannya..
Namun kami masih mencintainya.
Kami masih mencintai Ciliwungku yang cantik..

-faizah, 29072012. 22:38wib-

Sampah dari Kali Induk yang setiap hari bermuara ke Sungai Ciliwung Cililitan. ( Fotografer : Alan Agus Jaelani 9 Juli 2012) Kali Induk merupakan aliran sungai kecil yang berhulu di Pasar Rebo, Pasar Induk Kramat Jati, dan daerah Rumah Sakit Umum Daerah Pasar Rebo.

Generasi Muda Menatap Nasib Sungai Mereka Sepertinya Negara Tidak Hadir serta Melakukan Pembiaran Pengrusakan Sungai masa Depan Mereka Limbah Industri hitam terekam Minggu 29 Juli 2012 Pukul 13.00 di Ciliwung Condet , hal ini berlangsung sudah dalam 2 bulan ini setiap 2 hari sekali. Diduga sumber buangan limbah pabrik dari daerah Cimnaggis dan Cipayung Depok.

Sampah Kali Induk yang bermuara di Muara Ciliwung Cililitan 29 Juli 2012. Berdasarkan informasi warga diduga adalah buangan dari Pasar Induk Kramat Jati, dan hal ini berlangsung setiap hari bercampur limbah cair industri yang berwarna Hitam Pekat.

Minggu, 12 Agustus 2012

Trip Ciliwung Bersama Offroaders “Everything Four Wheel Drive”

Komunitas Ciliwung Everything Four Wheel Drive (Foto : Taufiq Des)

(Reportase : Nur FaizahRasyid : Sekolah Alam Ciliwung) 

Kamis, 5 juli 2012 tiba-tiba saya mendapatkan sms dari bang kodir yang berupa ajakan untuk susur sungai ciliwung. Tentu saja saya langsung bersemangat menyetujuinya tanpa banyak bertanya. Bahkan saya yang saat itu sedang berada di bandung dan berencana untuk meneruskan holiday trip saya ke jogja dan semarang langsung memutuskan untuk pulang dan ikut susur sungai. Kami diminta berkumpul di basecamp pukul 7 pagi minggu, 8 juli 2012.

Tibalah hari yang saya tunggu-tunggu, dengan sedikit tergesa dan takut ditinggal, saya meluncurkan motor saya kesana dengan cepat. Tapi saya kaget sesampainya saya di basecamp, tempat itu masih sangat sepi. Bahkan ada beberapa orang yang masih asyik terlelap di saung. Saya pikir saya telah dikerjain nih oleh Bang Kodir. Tapi ternyata tidak, selang satu jam kemudian datanglah tamu yang tidak saya duga. Rombongan komunitas Everything Four Wheel Drive yang terdiri dari beberapa pria tampan –yang sudah beruban- ternyata ikut meramaikan kegiatan susur sungai kami hari itu. Asal tau saja, komunitas ini merupakan komunitas para offroader keren yang terkenal dengan jeep-jeep seksinya. Di pikiran saya sudah mulai berkecamuk beberapa hal seru yang mungkin akan kami lalui saat susur sungai (saat itu saya masih tidak tau rute susur sungai kami).

Setelah dengan lahap (dan sedikit kalap) menyantap nasi uduk dan sambel kacang, para bapak-bapak keren itu mulai sibuk mondar-mandir ngga jelas. Saya sempat mencuri dengar obrolan mereka. Ternyata susur sungai kami hari ini bukan dimulai dari ciliwung condet, namun kami akan naik jeep (saya ulangi biar lebih dramatis) KAMI AKAN NAIK JEEP menuju depok dan start susur sungai kami dari depok. Wah, mendengar itu saya langsung makin semangat. Ini akan jadi pengalaman pertama saya naik jeep.
Setelah melakukan briefing singkat dan me-loading 2 perahu karet dan 1 kano ke atas mobil-mobil jeep(keren) itu, kami pun berangkat.

Rombongan kami terdiri dari 4 mobil jeep. Saya masuk ke dalam mobil jeep putih dengan atap tertutup yang di ‘tunggangi’ oleh Pak Najib. Sedikit cerita tentang Pak Najib, beliau ini pria berwajah preman namun berhati hello kitty. Beliau sangat low profile, baik hati dan berjiwa sosial. Sepanjang perjalanan beliau bercerita tentang komunitasnya, tentang bengkel jeep miliknya, juga tentang anak laki-lakinya yang memenangkan lomba offroad yang diadakan di Bangka Belitung. Saya, Bang Isto, dan Pak Haji Royani antusias mendengar cerita serunya. Perjalanan ke Depok terasa seru, dan saya serasa jadi miss Indonesia karena semua mata tertuju pada mobil-mobil keren yang kami naiki *hahahaha*. Sampai di tempat tujuan ternyata lokasi tidak memungkinkan kami untuk menurunkan perahu karena tidak adanya akses yang memadai untuk sampai di sungai.

Akhirnya Pak Najib mengajak kami ke daerah dekat rumahnya yang memang masih sekitar daerah aliran Sungai Ciliwung. Menurut beliau disana akses turun ke sungai lebih landai. Namu sesampainya kami di tempat tersebut kami dikejutkan oleh kondisi sungai di daerah Depok tersebut. Air sungai tersebut berwarna hitam pekat tanda sudah tercemar berat, dan baunya …uuuffffttttt… membuat kami kompak menutup hidung. Bang kodir “the man of Ciliwung” tentu saja tidak bisa tinggal diam. Ia dan pasukannya lantas menelusuri asal limbah tersebut. Pak Najib dengan sigap langsung menjemput ketua RT setempat untuk turut serta dengan kami. Akhirnya setelah bertanya-tanya kami bertemu dengan salah satu tetua disana dan mendapatkan informasi kalau limbah tersebut berasal dari pabrik ban sepeda. Kami geram sekali mendengarnya. Akhirnya kami mengambil sampel air dan membuat berita acara terkait hasil temuan kami untuk nantinya di laporkan kepada pihak-pihak terkait.

Ketegangan berakhir, senyum dan canda kembali menghiasi perjalanan kami. Melihat kondisi sungai yang begitu hitam legam dan berbau busuk, kami enggan untuk turun disana. Akhirnya perjalanan kami lanjutkan lagi, saya kembali menaiki mobil seksi milik pak najib yang bernama Bangor the Conqueror, bangor sang penakluk ( aku meng-iya-kan dalam hati, karena mobil itu memang sudah menaklukkan hati saya. *hehehe).

Setengah jam kemudian kami para pasukan Ciliwung sampai di daerah Lenteng Agung. Tentu saja banyak anak-anak kecil yang mengerubungi kami untuk sekedar melihat atau bahkan ikut membantu menurunkan barang-barang kami. Kami seolah menjelma menjadi salah satu rombongan calon gubernur yang sedang ber kampanye, ibu-ibu sekitar ramai mengiringi kami sampai ke tepi sungai.

Setelah perahu-perahu kami sudah mengapung, dan semua barang sudah pindah ke dalam perahu kami pun bersiap untuk bertualang. Sayang sekali kawan-kawan kami dari Everything Four Wheel Drive tidak bisa turut serta nyemplung karena ada urusan lain yang harus mereka selesaikan. Setelah berpamitan dan berdadah-dadah ria, kami meluncur.

Mesin perahu kami beberapa kami membentur batu wadas karena air sedang surut. Perahu kami pun sering nyangkut di jeram-jeram yang ada di sepanjang aliran sungai sehingga berkali-kali Bang Oom dan Bang Oji turun untuk mendorong perahu kami *thanks a lot for them* * peluk ciumabang-abang*. Pernah satu kali saat saya sedang tidak siap pegangan, perahu kami menabrak wadas dan saya hamper saja nyemplung ke sungai, untungnya bang isto dengan sigap memegangi kaki saya *pelukbangisto*.

Saat melewati daerah kopassus Cijantung, perahu kami terhalang oleh beberapa jaring yang dipasang untuk menghalau sampah. Kami agak kerepotan dibuatnya, setelah kami melewati jaring-jaring tersebut, sungai ciliwung terlihat sangat bersih. Oh, rupanya di kopassus baru saja selesai acara yang dihadiri oleh Ibu Ani Yudhoyono, makanya diadakan kerja bakti ciliwung. Hal pertama yang terlintas di pikiranku adalah, lantas akan di kemanakan sampah yang telah terhalau jaring-jaring tadi? Apakah akan diangkat? Atau malah kembali dihanyutkan kembali ke sungai Ciliwung? Jadi kerja bakti tersebut hanya pencitraan saja? Jadi sebenarnya untuk siapa kopassus? Untuk siapa Ciliwung bersih? Untuk warga kah? Atau hanya untuk para petinggi Negara saat berkunjung? Miris sekali rasanya membayangkan hal tersebut.

Melewati jembatan TB.Simatupang aliran Ciliwung semakin dangkal, bukan karena batu wadas seperti sebelumnya, namun oleh timbunan sampah plastik di dasar sungai. Beberapa kali mesin perahu kami mati karena terlilit sampah. Namun masih dapat kutemui beberapa anak yang masih asyik berenang di air yang keruh tersebut. Semakin ke hilir, keadaan sungai semakin parah. Kanan-kirinya bukan lagi pohon, namun sudah banyak gunung sampah dan bukit beton. Memasuki wilayah Pasar Minggu, kedaaan makin memburuk. Air mulai menghitam, bau-bauan bercampur aduk. Bau bangkai hewan, bau sampah yang membusuk, dan bau asap hasil pembakaran sampah. Kami sampai harus menutup hidung agar tak mencium bau-bauan tersebut. Sesekali masih kudapati bapak-bapak yang berjejer di pinggir sungai memancing ikan dengan pancingan dan jaring ikan. Memancng mujaer, jawab mereka kala kutanya. Ciliwung ooh Ciliwung, dalam keadaan sakit pun kau masih saja memberi rezeki untuk mereka.

Tak terasa 2 jam sudah kami lewati di atas perahu. Basecamp Ciliwung sudah terlihat diujung mata. Beberapa anak dari Komunitas Kampong Kramat terlihat sedang bermain air di pinggir sungai. Mereka sesekali protes karena tidak diajak susur sungai. Sesampainya kami di basecamp dan naik ke saung atas, hidung saya sudah mulai ditarik-tarik oleh bau seap yang menggoda. Ternyata senampan nasi goreng sudah tersaji. Heeemmmm nyammiiihh..

Dan cerita hari itu tak habis-habisnya mengalir dari bibir kami. Tentang sampah, anak-anak yang berenang, dan tentang Ciliwung. Tentang Kopassus, tentang bapak-bapak berbaju cagub berbatik yang sedang pup, dan tentang ciliwung. Tentang air yang menghitam, tentang jeram-jeram yang kami lewati, dan tentang Ciliwung. Tentang berbagai bebauan, tentang pohon yang terbungkus sampah, dan tentang Ciliwung. Tentang Ciliwung, dan tentang Ciliwung. Tentang ciliwung dan untaian cintanya yang tak pernah habis untuk kami, bahkan dalam kesakitannya. Terima kasih Ciliwungku …….


Konvoi Menuju Ciliwung Depok

Bergerak Untuk Pemantauan Ciliwung dan Susur Sungai

Perempuan Tercantik Dengan Komunitas Ciliwung Condet, Komunitas Ciliwung Condet Pejaten, Komunitas Ciliwung Kampung Kramat

Pak Najib Menyiapkan Penurunan Perahu Kanu (Fotografer : Taufik Des )

Pencemaran Limbah Industri di Ciliwung Depok, dari informasi warga kuat dugaan bersumber dari Industri daerah Cimanggis dan Cipayung Depok ( Fotogrfer : Taufik Des Komunitas Ciliwung Kalimulya Depok)

Warga Mengeluh Tidak Adanya Sanksi Hukum Untuk Pelaku, Karena Pencemaran ini sudah berlangsung lama 3-4 kali dalam seminggu dan biasanya dibuang di pagi hari ( Fotografer : Komunitas Ciliwung Kalimulya Depok )

Pembuatan Berita Acara Pelaporan Warga Kecamatan Cimanggis Depok Atas Pencemaran Limbah Pabrik di Ciliwung.

Untungnya Jadi Fasilitator Sekolah Alam Ciliwung Selalu Dikerubunin Bocah, Anak anak lokal Ciliwung Depok membantu penurunan peralatan ke sungai ( Fotografer : Alan Agus Jaelani )

Akses Turun Ke Ciliwung Melewati Belakang Perkampungan

Menjadi Tontonan Hiburan Tersendiri bagi Warga Ciliwung Depok Yang Kesehariaanya Jarang Ada Keramaian Di Sungai Ciliwung.

Tersangkut Jaring Sampah Koppassus, Menjadi Persoalan Baru Ketika Jaring Ini Juga Menghambat Jalur Lalu Lintas Tradisional Tukang Rakit Getek Bambu di Ciliwung

Semoga dengan Ibu Negara Turun Ke Ciliwung, Sungai Ciliwung Dapat Kembali Bersih dan Lestari, Sungai Jakarta Indikator Indonesia ( Fotografer : Alan Agus Jaelani )

Menjadi Pengalaman Tak Terlupakan Wisata Ciliwung Edukasi Lingkungan Sungai.