Entri Populer

Senin, 17 Oktober 2011

Susur Ciliwung Tak Kenal Maka Tak Sayang, Mari Kenali Ciliwung Lebih Dekat.


Team Susur Komunitas Peduli Ciliwung (Foto: Sheila Kartika)


Terminal dari banyak mata air yg membentuk telaga pada satu cekungan permukaan tanah.
Selain Telaga warna juga terdapat Telaga Cisaat sebagai sumber air sungai Ciliwung.



Dari aliran-aliran kecil beginilah asal muasal air sungai Ciliwung.



Mencoba mengamati kondisi air dan biota yang hidup di aliran mata air.



Sampah pertama 200 Meter dari titik Nol mata air sungai Ciliwung, berupa kantong kresek dari Mini Market ternama.


Penelusuran sering terhambat karena aliran sungai menghilang ketutupan bangunan rumah penduduk yang padat. Pembangunan semacam ini jelas melanggar IMB ketentuaan pelestariaan sungai.



Aliran sungai mulai memasuki pemukiman padat penduduk dan Villa warga Jakarta di Puncak.


Pemanfaatan air hulu sungai Ciliwung, aliran air dibagi melalui pipa-pipa paralon langsung ke rumah penduduk.


Hulu Sungai Ciliwung dengan pemukiman padat penduduk layaknya Jakarta.



Tempat Pembuangan sampah di desa Tugu


Penguasaan Badan Sungai, Mau bangun apa ya..di badan sungai begini…?


Tempat Pembuangan sampah di bantaran hulu sungai Ciliwung di desa Citameang.



Lagi-lagi dasyatnya sampah di desa Tugu


Privatisai bantaran oleh villa mewah Grand Hill dan sungai dijadikan tempat pembuangan sampah Villa Mewah, jadi terbukti bahwa tingkat pendidikan dan tingkat ekonomi tidak berbanding lurus dengan kesadaran lingkungan.



Sempat mereka kaget, kok tiba2 tim bisa memasuki areal privat mereka (Villa mewah Grand Hill) yang dipagar rapat, mereka sempat melarang tim untuk mengambil gambar tempat pembuangan sampah mereka di bantaran sungai.



Pengambilan sampel ikan lokal pada titik kedua yaitu daerah Cibuliar.



Penelusuran sering harus menerabas derasnya arus sungai, karena medan sering buntu karena bangunan Villa maupun terjalnya bantaran sungai untuk dilalui.



Penguasaan milik umum menjadi milik privasi oleh pemilik Villa, kira2 izin dari siapa ya..?



Upppss… tangan diangkat sedikit, jaga keseimbangan…!


Beristirahan dan menikmati sejuknya air, mumpung belum kotor dan tercemar limbah sesampainya di kota Bogor dan Jakarta.


Foto dan tulisan:Sudirman Asun
Penelusuran sungai Ciliwung dengan berjalan kaki. Penelusuran ini dimotori oleh Komunitas Peduli Ciliwung (KPC Bogor). Begitu banyak data yang bisa diperoleh dari media internet khususnya dari Ekspedisi Ciliwung yang pernah dilakukan oleh KOMPAS, namun sekelompok orang muda yang berenergi lebih ingin mengenal lebih dekat lagi sosok sungai Ciliwung seutuhnya mulai dari mata air di hulu sana di kaki pegunungan Gede-Pangrango (mata air Telaga Warna) dan akan dilakukan hingga sampai hilir (muara Teluk Jakarta) yang dilakukan secara estafet.

Pendataan yang telah berhasil dilakukan dalam beberapa kegiatan susur bersambung:

-Susur Ciliwung pertama berhasil mendata dari titik Telaga Warna- Cibuliar 8 Jan 2011.

-Susur Ciliwung kedua dilanjutkan dari Cibuliar - Taman Wisata Matahari Cisarua 9 Jan 2011

-Susur Ciliwung ketiga dari Taman Wisata Matahari- Jembatan Gadog 12 Feb 2011

-Susur Ciliwung keempat kemarin dilanjutkan dari Jembatan Gadog terselesaikan pada titik Ciliwung jembatan Balaibinarum Sukasarikelurahan Barangsiang kota Bogor 2 April 2011.

Susur sungai sendiri terbuka untuk umum dengan partisipasi perorangan beragam mulai dari pengamat burung @BurungIndonesia, Kantor Berita @kotahujan, aliansi masyarakat adat nusantara (AMAN), Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP Bogor), Telapak, Laskar Karung, dan Forest Watch Indonesia.

Susur dilakukan dengan jalan kaki santai sambil menikmati pemandangan, pengambilan sampel biota sungai dan pendataan dengan bantuaan GPS, pengambilan gambar foto dan catatan berdasarkan keterangan dari informasi dan interaksi dengan penduduk lokal yang memanfaatkan sungai seperti petani, pemancing, anak yg bermain di sungai.

Pendataan meliputi titk pembuangan gunung sampah, kampung yg dilewati, titik mata air, titik air buangan, pertemuaan sungai, delta, jembatan, irigasi serta pemanfaatan sungai lainnya.

Ciliwung telah dirusak dari hulu 1 KM dari titik nol mata air oleh Privatisai bantaran sungai dan Tempat Pembuangan Sampah (TPS).

Cagar Alam Telaga Warna cukup bagus kondisi hutannya, dan mata air cukup banyak membentuk satu aliran kecil yang makin membesar. Penelusuran dipinpin oleh Mas Hapsoro Telapak dan Mas Hari Kikuk dibantu dengan alat GPS, mengingat aliran air sering buntu untuk dilalui karena sulitnya medan atau ketutupan rumah penduduk serta pagar beton Villa.

1 Km dari mata air Telaga Warna, aliran air masih melewati kebun teh hijau sebelah kiri dan hutan sebelah kanan, lepas dari itu, kita mulai temui pemukiman penduduk dan ladang sayur. Makin bergerak ke hilir makin banyak kita temui pemukiman padat penduduk layaknya kota Jakarta dengan gang2 sempit, di aliran melewati pemukiman sungai Ciliwung makin kami sering temui sampah rumah tangga berupa kantongan plastik, kemasan makanan STYROFOAM, bungkus plastik kemasan mie instan dan kemasan sabun.

Perjalanan makin sulit ketika kami terbentur oleh tembok pagar Villa2 warga Jakarta, serta aliran yang tiba2 hilang ketutupan bagunan rumah penduduk, untuk lahan2 kosong bantaran sungai sekitar kampung banyak kami temui digunakan sebagai tempat pembuangan sampah. Hal ini bukan hanya dilakukan oleh penduduk setempat, tetapi juga oleh pemilik Villa mewah dan mereka sempat melarang kami mengambil gambar tumpukan sampah di bantaran sungai yg mereka pakai sebagai tempat pembuangan sampah. Mereka kaget kenapa kami bisa tiba2 muncul di area privasi mereka yg tertutup rapat oleh pagar beton.

Hal ini sangat membuat kita miris, ternyata tingkat pendidikan dan tingkat ekonomi tidak berbanding lurus dengan kesadaran lingkungan yg bersih dan sehat, hal ini tercermin dari pengelola villa yg saya yakin memiliki pendidikan dan tingkat ekonomi yg cukup mapan.

Banyaknya pembangunan Villa oleh warga Jakarta dan padatnya bagungan pemukiman penduduk di puncak ( +- 50 %hampir mengambil lahan hijau di daerah puncak )yang jelas merusak aliran sungai apalagi ketika diikuti dengan menjadikan bantaran sungai sebagai tempat sampah, kurangnya daerah hijau ini mengakibatkan gampangnya pengikisan lapisan tanah terbawa oleh hujan dan mengakibatkan pendangkalan sungai. Belum lagi pembangunan yg melanggar IMB dengan membuat bangunan di bantaran dan badan sungai.

bersambung ke susur berikutnya...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar