Entri Populer

Minggu, 12 Agustus 2012

Trip Ciliwung Bersama Offroaders “Everything Four Wheel Drive”

Komunitas Ciliwung Everything Four Wheel Drive (Foto : Taufiq Des)

(Reportase : Nur FaizahRasyid : Sekolah Alam Ciliwung) 

Kamis, 5 juli 2012 tiba-tiba saya mendapatkan sms dari bang kodir yang berupa ajakan untuk susur sungai ciliwung. Tentu saja saya langsung bersemangat menyetujuinya tanpa banyak bertanya. Bahkan saya yang saat itu sedang berada di bandung dan berencana untuk meneruskan holiday trip saya ke jogja dan semarang langsung memutuskan untuk pulang dan ikut susur sungai. Kami diminta berkumpul di basecamp pukul 7 pagi minggu, 8 juli 2012.

Tibalah hari yang saya tunggu-tunggu, dengan sedikit tergesa dan takut ditinggal, saya meluncurkan motor saya kesana dengan cepat. Tapi saya kaget sesampainya saya di basecamp, tempat itu masih sangat sepi. Bahkan ada beberapa orang yang masih asyik terlelap di saung. Saya pikir saya telah dikerjain nih oleh Bang Kodir. Tapi ternyata tidak, selang satu jam kemudian datanglah tamu yang tidak saya duga. Rombongan komunitas Everything Four Wheel Drive yang terdiri dari beberapa pria tampan –yang sudah beruban- ternyata ikut meramaikan kegiatan susur sungai kami hari itu. Asal tau saja, komunitas ini merupakan komunitas para offroader keren yang terkenal dengan jeep-jeep seksinya. Di pikiran saya sudah mulai berkecamuk beberapa hal seru yang mungkin akan kami lalui saat susur sungai (saat itu saya masih tidak tau rute susur sungai kami).

Setelah dengan lahap (dan sedikit kalap) menyantap nasi uduk dan sambel kacang, para bapak-bapak keren itu mulai sibuk mondar-mandir ngga jelas. Saya sempat mencuri dengar obrolan mereka. Ternyata susur sungai kami hari ini bukan dimulai dari ciliwung condet, namun kami akan naik jeep (saya ulangi biar lebih dramatis) KAMI AKAN NAIK JEEP menuju depok dan start susur sungai kami dari depok. Wah, mendengar itu saya langsung makin semangat. Ini akan jadi pengalaman pertama saya naik jeep.
Setelah melakukan briefing singkat dan me-loading 2 perahu karet dan 1 kano ke atas mobil-mobil jeep(keren) itu, kami pun berangkat.

Rombongan kami terdiri dari 4 mobil jeep. Saya masuk ke dalam mobil jeep putih dengan atap tertutup yang di ‘tunggangi’ oleh Pak Najib. Sedikit cerita tentang Pak Najib, beliau ini pria berwajah preman namun berhati hello kitty. Beliau sangat low profile, baik hati dan berjiwa sosial. Sepanjang perjalanan beliau bercerita tentang komunitasnya, tentang bengkel jeep miliknya, juga tentang anak laki-lakinya yang memenangkan lomba offroad yang diadakan di Bangka Belitung. Saya, Bang Isto, dan Pak Haji Royani antusias mendengar cerita serunya. Perjalanan ke Depok terasa seru, dan saya serasa jadi miss Indonesia karena semua mata tertuju pada mobil-mobil keren yang kami naiki *hahahaha*. Sampai di tempat tujuan ternyata lokasi tidak memungkinkan kami untuk menurunkan perahu karena tidak adanya akses yang memadai untuk sampai di sungai.

Akhirnya Pak Najib mengajak kami ke daerah dekat rumahnya yang memang masih sekitar daerah aliran Sungai Ciliwung. Menurut beliau disana akses turun ke sungai lebih landai. Namu sesampainya kami di tempat tersebut kami dikejutkan oleh kondisi sungai di daerah Depok tersebut. Air sungai tersebut berwarna hitam pekat tanda sudah tercemar berat, dan baunya …uuuffffttttt… membuat kami kompak menutup hidung. Bang kodir “the man of Ciliwung” tentu saja tidak bisa tinggal diam. Ia dan pasukannya lantas menelusuri asal limbah tersebut. Pak Najib dengan sigap langsung menjemput ketua RT setempat untuk turut serta dengan kami. Akhirnya setelah bertanya-tanya kami bertemu dengan salah satu tetua disana dan mendapatkan informasi kalau limbah tersebut berasal dari pabrik ban sepeda. Kami geram sekali mendengarnya. Akhirnya kami mengambil sampel air dan membuat berita acara terkait hasil temuan kami untuk nantinya di laporkan kepada pihak-pihak terkait.

Ketegangan berakhir, senyum dan canda kembali menghiasi perjalanan kami. Melihat kondisi sungai yang begitu hitam legam dan berbau busuk, kami enggan untuk turun disana. Akhirnya perjalanan kami lanjutkan lagi, saya kembali menaiki mobil seksi milik pak najib yang bernama Bangor the Conqueror, bangor sang penakluk ( aku meng-iya-kan dalam hati, karena mobil itu memang sudah menaklukkan hati saya. *hehehe).

Setengah jam kemudian kami para pasukan Ciliwung sampai di daerah Lenteng Agung. Tentu saja banyak anak-anak kecil yang mengerubungi kami untuk sekedar melihat atau bahkan ikut membantu menurunkan barang-barang kami. Kami seolah menjelma menjadi salah satu rombongan calon gubernur yang sedang ber kampanye, ibu-ibu sekitar ramai mengiringi kami sampai ke tepi sungai.

Setelah perahu-perahu kami sudah mengapung, dan semua barang sudah pindah ke dalam perahu kami pun bersiap untuk bertualang. Sayang sekali kawan-kawan kami dari Everything Four Wheel Drive tidak bisa turut serta nyemplung karena ada urusan lain yang harus mereka selesaikan. Setelah berpamitan dan berdadah-dadah ria, kami meluncur.

Mesin perahu kami beberapa kami membentur batu wadas karena air sedang surut. Perahu kami pun sering nyangkut di jeram-jeram yang ada di sepanjang aliran sungai sehingga berkali-kali Bang Oom dan Bang Oji turun untuk mendorong perahu kami *thanks a lot for them* * peluk ciumabang-abang*. Pernah satu kali saat saya sedang tidak siap pegangan, perahu kami menabrak wadas dan saya hamper saja nyemplung ke sungai, untungnya bang isto dengan sigap memegangi kaki saya *pelukbangisto*.

Saat melewati daerah kopassus Cijantung, perahu kami terhalang oleh beberapa jaring yang dipasang untuk menghalau sampah. Kami agak kerepotan dibuatnya, setelah kami melewati jaring-jaring tersebut, sungai ciliwung terlihat sangat bersih. Oh, rupanya di kopassus baru saja selesai acara yang dihadiri oleh Ibu Ani Yudhoyono, makanya diadakan kerja bakti ciliwung. Hal pertama yang terlintas di pikiranku adalah, lantas akan di kemanakan sampah yang telah terhalau jaring-jaring tadi? Apakah akan diangkat? Atau malah kembali dihanyutkan kembali ke sungai Ciliwung? Jadi kerja bakti tersebut hanya pencitraan saja? Jadi sebenarnya untuk siapa kopassus? Untuk siapa Ciliwung bersih? Untuk warga kah? Atau hanya untuk para petinggi Negara saat berkunjung? Miris sekali rasanya membayangkan hal tersebut.

Melewati jembatan TB.Simatupang aliran Ciliwung semakin dangkal, bukan karena batu wadas seperti sebelumnya, namun oleh timbunan sampah plastik di dasar sungai. Beberapa kali mesin perahu kami mati karena terlilit sampah. Namun masih dapat kutemui beberapa anak yang masih asyik berenang di air yang keruh tersebut. Semakin ke hilir, keadaan sungai semakin parah. Kanan-kirinya bukan lagi pohon, namun sudah banyak gunung sampah dan bukit beton. Memasuki wilayah Pasar Minggu, kedaaan makin memburuk. Air mulai menghitam, bau-bauan bercampur aduk. Bau bangkai hewan, bau sampah yang membusuk, dan bau asap hasil pembakaran sampah. Kami sampai harus menutup hidung agar tak mencium bau-bauan tersebut. Sesekali masih kudapati bapak-bapak yang berjejer di pinggir sungai memancing ikan dengan pancingan dan jaring ikan. Memancng mujaer, jawab mereka kala kutanya. Ciliwung ooh Ciliwung, dalam keadaan sakit pun kau masih saja memberi rezeki untuk mereka.

Tak terasa 2 jam sudah kami lewati di atas perahu. Basecamp Ciliwung sudah terlihat diujung mata. Beberapa anak dari Komunitas Kampong Kramat terlihat sedang bermain air di pinggir sungai. Mereka sesekali protes karena tidak diajak susur sungai. Sesampainya kami di basecamp dan naik ke saung atas, hidung saya sudah mulai ditarik-tarik oleh bau seap yang menggoda. Ternyata senampan nasi goreng sudah tersaji. Heeemmmm nyammiiihh..

Dan cerita hari itu tak habis-habisnya mengalir dari bibir kami. Tentang sampah, anak-anak yang berenang, dan tentang Ciliwung. Tentang Kopassus, tentang bapak-bapak berbaju cagub berbatik yang sedang pup, dan tentang ciliwung. Tentang air yang menghitam, tentang jeram-jeram yang kami lewati, dan tentang Ciliwung. Tentang berbagai bebauan, tentang pohon yang terbungkus sampah, dan tentang Ciliwung. Tentang Ciliwung, dan tentang Ciliwung. Tentang ciliwung dan untaian cintanya yang tak pernah habis untuk kami, bahkan dalam kesakitannya. Terima kasih Ciliwungku …….


Konvoi Menuju Ciliwung Depok

Bergerak Untuk Pemantauan Ciliwung dan Susur Sungai

Perempuan Tercantik Dengan Komunitas Ciliwung Condet, Komunitas Ciliwung Condet Pejaten, Komunitas Ciliwung Kampung Kramat

Pak Najib Menyiapkan Penurunan Perahu Kanu (Fotografer : Taufik Des )

Pencemaran Limbah Industri di Ciliwung Depok, dari informasi warga kuat dugaan bersumber dari Industri daerah Cimanggis dan Cipayung Depok ( Fotogrfer : Taufik Des Komunitas Ciliwung Kalimulya Depok)

Warga Mengeluh Tidak Adanya Sanksi Hukum Untuk Pelaku, Karena Pencemaran ini sudah berlangsung lama 3-4 kali dalam seminggu dan biasanya dibuang di pagi hari ( Fotografer : Komunitas Ciliwung Kalimulya Depok )

Pembuatan Berita Acara Pelaporan Warga Kecamatan Cimanggis Depok Atas Pencemaran Limbah Pabrik di Ciliwung.

Untungnya Jadi Fasilitator Sekolah Alam Ciliwung Selalu Dikerubunin Bocah, Anak anak lokal Ciliwung Depok membantu penurunan peralatan ke sungai ( Fotografer : Alan Agus Jaelani )

Akses Turun Ke Ciliwung Melewati Belakang Perkampungan

Menjadi Tontonan Hiburan Tersendiri bagi Warga Ciliwung Depok Yang Kesehariaanya Jarang Ada Keramaian Di Sungai Ciliwung.

Tersangkut Jaring Sampah Koppassus, Menjadi Persoalan Baru Ketika Jaring Ini Juga Menghambat Jalur Lalu Lintas Tradisional Tukang Rakit Getek Bambu di Ciliwung

Semoga dengan Ibu Negara Turun Ke Ciliwung, Sungai Ciliwung Dapat Kembali Bersih dan Lestari, Sungai Jakarta Indikator Indonesia ( Fotografer : Alan Agus Jaelani )

Menjadi Pengalaman Tak Terlupakan Wisata Ciliwung Edukasi Lingkungan Sungai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar