Entri Populer

Jumat, 26 Oktober 2012

Lomba Anak Ciliwung Menulis Surat Untuk Presiden #HariCiliwung1111

Adik-adik apa kabar? Ada yang kenal dengan Sungai Ciliwung? Pernah bermain di Ciliwung? Menurut adik-adik, airnya bagaimana? Apakah airnya bisa langsung kita minum? Pada zaman dahulu, air Sungai Ciliwung bisa diminum lho? Coba kalau sekarang airnya kita minum. Bisa-bisa bikin kita sakit perut.

Dalam rangka Peringatan Hari Ciliwung, kakak mengajak adik-adik, untuk menceritakan keadaan Ciliwung kepada bapak-bapak pemimpin bangsa ini. Cerita disampaikan dalam bentuk surat. Isinya harus sesuai dengan tema “Harapanku untuk Masa Depan Ciliwung.” Adik-adik bisa menuliskan apa saja mulai dari ide, pertanyaan atau bahkan laporan tentang Ciliwung saat ini. Mungkin kalian punya ide bagaimana caranya supaya sungai kita bisa bersih dan indah.. atau malah kalian bingung bagaimana membuat sungai-sungai kita menjadi bersih dan indah…??? Nah, kalau begitu yuk, kita menulis surat untuk Presiden kita.
Dalam rangka Peringatan Hari Ciliwung pertama kali pada tanggal 11 November 2012, Surat kamu boleh berisi ide,pertanyaan atau bahkan sekedar untuk memberitahukan keadaan sungai kita ini.. Ayo ikutan Lomba Menulis Surat Untuk Bapak Presiden Tentang Sungai Ciliwung, sungai terbesar di Ibukota Indonesia. Lomba bertemakan “Harapanku Untuk Masa Depan Ciliwung”

Syarat dan ketentuan lomba:
- Peserta Anak Indonesia max umur 14 tahun (cantumkan identitas)
- Tulisan dalam bentuk tulisan tangan max 250 kata / setengah halaman buku tulis
- Tulisan di scan dalam bentuk (pdf/jpeg) dan dikirim ke hariciliwung@gmail.com
atau surat ( pojok kanan atas tulis “Surat Anak Ciliwung”) dikirim atau diantar langsung ke alamat:

* Komunitas Ciliwung Condet ( cp : Istohari Syukur 0813 1674 0855)
Jl. Munggang No. 6 rt/rw : 10/02 Condet Balekambang (pangkalan bambu)
Kramat Jati - Jakarta Timur 13530

* Komunitas Ciliwung Bojonggede (cp: Agnes 0896 3812 3071 )
Jl. H. Wahid - Kampung Glonggong
rt/rw : 03/05 No. 11
Desa Kedung Waringin - Bojonggede
Kabupaten Bogor - Jawa Barat. 16320

- Tulisan paling lambat diterima panitia Tgl. 3 November 2012 (penutupan)
- Penyeleksian akan dilakukan oleh Relawan Ciliwung dan tidak bisa diganggu gugat.

Surat yang diterima akan dibundel jadi satu dan disampaikan kepada BapakPresiden RIGubernur DKI Jakarta dan Gubernur Jawa Barat sebagai pengambil kebijakan pengelolaan sungai.

3 Surat terbaik dan terunik dari penilaian Juri akan dibacakan pada Acara Hari Ciliwung 11 November 2012 dan disampaikan di depan Menteri Lingkungan Hidup di lokasi ( dalam undangan), akan mendapat hadiah dan sovernir menarik dari Panitia #HariCiliwung1111 keterangan lebih lanjut hubungi:
hariciliwung@gmail.com
atau kunjungi kami di :

fun page facebook :
Ciliwung Institute : http://www.facebook.com/ciliwungnationalpark

blog resmi #HariCiliwung1111 : http://ciliwunginstitute.blogspot.com/

Hari Ciliwung 11 November 2012 #HariCiliwung1111

Chitra Chitra Javanensis Kemunculan spesies langka asli Sungai Ciliwung yaitu Bulus Raksasa, masuk Red List International Union for Conservation of Nature - IUCN-Sumber Foto : Demotix
Issue Konservasi dari Menggagas Peringatan Hari Ciliwung 11 November Semakin bertambahnya penduduk yang signifikan di kantong kantong penduduk di sepanjang Ciliwung terutama daerah perkotaan telah menyebabkan penurunan kualitas dan kerusakan lingkungan sungai makin tidak terkendali dan memberikan tekanan besar beban untuk ekosistem Ciliwung.
Alih fungsi lahan, pencemaran air oleh limbah industri
, limbah organik, pestisida pertanian telah membuat banyak spesies biota dan keberagaman vegetasi yang satu persatu terus menghilang dan punah dari Habitat Ciliwung.

Mengangkat Issue Konservasi dan Suaka Untuk Sungai Ciliwung dengan Hari Ciliwung 11 November

Ada Apa Dengan 11 November 2011
Kemunculan spesies langka asli Sungai Ciliwung yaitu Bulus Raksasa (Chitra chitra javanensis)
Bulus / Phik yang telah berumur ratusan tahun ini oleh warga Ciliwung disebut Senggawangan.
Oleh karena ukurannya yang raksasa dipercaya telah menjadi setengah gaib (hewan siluman).

Kearifan lokal bahwa siapa yang menangkap hewan ini akan jatuh sakit atau akan tertimpa bencana sedikit banyak telah membantu konservasi satwa/program penangkaran satwa yang masuk Red List International Union for Conservation of Nature (IUCN) yaitu sangat terancam punah karena jumlahnya hanya belasan atau tidak mencapai 10 ekor jumlah populasinya.
dan Red List 2006. Dan, dalam daftar Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) Appendix II.
Saat ini, status Chitra chitra javanensis di Indonesia dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 Tahun 1999 .

Pakar herpetologi Sekolah Ilmu dan Teknologi Institut Teknologi Bandung, Djoko Tjahjono Iskandar, mengatakan, bulus raksasa Ciliwung (Chitra chitra javanensis) sudah ditemukan sejak seabad lalu.
“Kalau ada yang mengatakan ini piaraan yang lepas atau introduksi pasti itu salah. Sebab, bulus ini ditemukan pertama kali tahun 1908,” kata Djoko.
Penemuan pertama tahun 1908, kata Djoko, mendapatkan dua individu. Satu individu kemudian disimpan di Museum Biologi Bogor dan satu lagi disimpan di salah satu museum di Jerman.
Setelah penemuan pada tahun 1908 tersebut, sangat sedikit laporan penemuannya. Penemuan selanjutnya baru dilaporkan 70 tahun kemudian, tahun 1971 dan 1973.
“Nah yang ditemukan tahun 1971 dan 1973 itu ada tiga ekor totalnya,” kata Djoko saat dihubungi Kompas.com, Kamis (17/11/2011).
Penemuan bulus raksasa Ciliwung ini menambah rekam data yang diungkapkan pakar herpetologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Mumpuni, yang mengatakan, bulus raksasa pernah ditemukan di Radio Dalam dan Tanjung Priok pada tahun 1980-an.
Penemuan terakhir bulus raksasa ini pada Jumat (11/11/2011). Bulus raksasa yang ditemukan di wilayah Tanjung Barat, Jakarta Selatan, ini memiliki ukuran 140 x 90 cm dan berat 140 kilogram.
Dengan sejarah penemuan tersebut, ilmuwan yang pernah meraih Habibie Award di Bidang Ilmu Dasar tahun 2005 itu meyakini, Ciliwung memang habitat Chitra chitra javanensis.

Penemuaan Senggawangan pada tgl 11/11/11 oleh penangkap bulus di Tanjung Barat membuktikan bahwa Konservasi Sungai Ciliwung perlu segera dilakukan.
Senggawangan dengan ukuran panjang 1,5 M dan bobot 140 kg, ditemukan berjumlah 2 ekor (1pasang) dan diperkirakan telah berumur ratusan tahun.

Haji Zaenudin Bombay yang membeli bulus tersebut dari para pencari bulus di Ciliwung pekan lalu, akhirnya memutuskan melepas binatang tersebut ke Kali Ciliwung, pada Rabu (16/11/2011) dini hari.


artikel lengkap Bulus Raksasa di Ciliwung silakan klik:
http://konservasidasciliwung.wordpress.com/kenakeragaman-hayati-ciliwung/bulus-raksasa/

Sumber Foto : Demotix http://www.demotix.com/news/1134207/giant-asian-narrow-headed-softshell-turtle-measures-130-centimeters#media-1134198

Apa yang Terjadi pada Sumber Air Minum Kita..?

Intake PDAM di Ciliwung Pejaten Timur berhenti beroperasi sejak 20 tahun yang lalu

Apa yang terjadi pada sumber air minum kita..?
Apa yang terjadi dengan sungai kita Ciliwung…?

Intake PDAM di Pejaten Timur ini sudah tidak beroperasi hampir 20 tahun lebih lamanya… Bahan baku air Sungai Ciliwung tidak layak lagi untuk dimanfaatkan, Polusi airnya terlalu tinggi baik cemaran kimia maupun cemaran organik. Aliran Ciliwung dikategorikan “Baku Mutu Air Kelas 4″ yg berarti Tercemar Berat , Hingga Tidak ada Klasifikasi Kelas karena kompleknya dan kentalnya bahan pencemar.

Sumber penggunaan bahan baku air Ciliwung oleh PDAM terkhir ada di daerah Ciliwung Depok Citayam. Sedangkan untuk Jakarta masih menggantungkan bahan baku air dari Kali Krukut dan Kali Malang Sungai Tarum Barat.

Dari 13 sungai di Jakarta, hampir sebagian besar tidak bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku sumber air. Sumber daya air permukaan rusak karena buruknya pengelolaan sistem.

Jakarta terancam tenggelam karena eksploitasi berlebihan sumber air tanah, imbas dari kegagalan memelihara sungai sebagai sumber daya air permukaan.

Kita lebih meributkan kenaikan BBM beberapa rupiah daripada memikirkan bahwa air minum yang kita harganya hampir menyamai 1 liter bensin.

Alam adalah keseimbangan, sudahkan kita bertindak adil kepada alam..? sudahkah kita memelihara sumber air kita sungai..? Berapa kerugiaan investasi PDAM ini karena tidak beroperasi..?,
Berapa kerugian masyarakat sebagai konsumen yang harus membayar mahal air bersih karena mahalnya biaya pengelolaan air dengan baku mutu kelas 4 Ciliwung, berapa biaya kesehatan hidup yang harus kita bayar karena air yang kita konsumsi , penurunan kualitas Sumber Daya Manusia karena air yang kita minum.

Harapan ke depan Intake PDAM di Ciliwung Pejaten Timur - Jakarta Selatan ini dapat kembali beroperasi. Lebih banyak lagi masyarkat kita terjangkau oleh air bersih yang lebih murah.
#StopSedotAirTanah