Entri Populer

Jumat, 02 November 2012

Undangan Publik Hari Ciliwung 11 November “Konservasi Ekosistem Ciliwung, Selamatkan yang Tersisa”


Maskot Ciliwung : SENGGAWANGAN

Ada yang bilang “kepalanya besar, bermata merah dan ada tanduknya..” dan ada pula yang menyebutkan “bibirnya merah bergincu dan di atas punggungnya seperti ada motif kaligrafi tulisan China” begitu misteriusnya sosok makhluk “Senggawangan” bagi sebagian masyarakat Sungai Ciliwung.

 Angkatan tua Ciliwung yang masih pernah mengalami masa kejayaan Sungai Ciliwung, menceritakan jaman dimana warga masih sering “ngebak”, bahasa betawi yang artinya ngoyor/ main berenang berlama lama seharian di sungai sampai mata merah karena sambil menyelam.

 Cerita Senggawangan menjadi semisteri cerita monster loch ness di Skotlandia, oleh karena ukurannya yang raksasa dipercaya telah menjadi setengah gaib (hewan siluman), tidak ada yang pernah melihat makhluk ini secara utuh.


  Maskot Ciliwung : Senggawangan “Kearifan Kultural Menghormati Sungai”

Beberapa orang yang beruntung mengaku hanya diperlihatkan riak ombak dan semburan airnya ketika makhluk ini menenggak udara di permukaan air, walau sering tidak diketahui apakah itu hanya bayangan sepotong kayu besar atau sebungkah batu kali.

 Cerita Senggawangan berkembang dari mulut ke mulut dan ada disertai penambahan bumbu, berkembang seperti cerita cerita mitos lainnya, Buaya Putih, Buaya Buntung, Uling, Lembu Air. Karena Mistisnya keberadaan Senggawangan, sebagian masyarakat percaya orang yang berpapasan dengan hewan gaib ini akan jatuh sakit panas dingin karena terkejut atau ketakutan. Jangankan menangkap, melihat saja masih dianggap sesuatu yang sakral.

 Mungkin cerita cerita ini terdengar tidak masuk akal, penyampaian secara turun temurun dari para orang tua sepertinya menakuti, namun ketika kita kaji ulang bahwa itulah pesan menjaga lingkungan, konservasi secara kultural, menghormati kehidupan lain di sungai, bagaimana kehidupan bisa saling berdampingan tanpa merusak. Namun kini perlahan tapi pasti nilai nilai kearifan terkikis oleh budaya pendatang dan dimakan jaman.

 11 November 2011

11 November 2011, Kalangan akademis dikejutkan dengan penemuaan Chitra chitra javanensis di aliran Sungai Ciliwung Tanjung Barat- Jakarta Selatan, kemunculan bulus raksasa ini terhitung sangat jarang, sehingga data mengenai satwa ini pun, juga cukup minim.

 Pakar herpetologi Sekolah Ilmu dan Teknologi Institut Teknologi Bandung, Djoko Tjahjono Iskandar, mengatakan, bulus raksasa Ciliwung (Chitra chitra javanensis) sudah ditemukan sejak seabad lalu. Penemuan pertama tahun 1908, kata Djoko, mendapatkan dua individu. Satu individu kemudian disimpan di Museum Biologi Bogor dan satu lagi disimpan di salah satu museum di Jerman.

 Setelah penemuan pada tahun 1908 tersebut, sangat sedikit laporan penemuannya. Penemuan selanjutnya baru dilaporkan 70 tahun kemudian, tahun 1971 dan 1973.

 Penemuan terakhir bulus raksasa ini pada Jumat (11/11/2011). Bulus raksasa yang ditemukan di wilayah Tanjung Barat, Jakarta Selatan, ini memiliki ukuran 140 x 90 cm dan berat 140 kilogram.

 Penemuaan Senggawangan pada tgl 11/11/11 oleh penangkap bulus di Tanjung Barat membuktikan bahwa Konservasi Sungai Ciliwung perlu segera dilakukan.

 Senggawangan dengan ukuran panjang 1,5 M dan bobot 140 kg, ditemukan berjumlah 2 ekor (1pasang) dan diperkirakan telah berumur ratusan tahun. Karena adanya kearifan cerita Senggawangan, Haji Zaenudin Bombay yang menyelamatkan bulus tersebut dengan membeli dari para pencari bulus di Ciliwung , akhirnya memutuskan melepas satwa ini kembali ke Ciliwung, pada Rabu (16/11/2011) dini hari.

  Menggagas Kembali Kesadaran Konservasi oleh Masyarakat dari 
Peringatan Hari Ciliwung 11 November 

 Menjadikan Senggawangan sebagai maskot Ciliwung, mengangkat kembali kearifan lokal menghormati dan menjaga kehidupan sungai. 
Mungkin dengan ini suatu saat kita rindu akan jaman dulu, mendengar nasehat-nasehat dari para orang tua “nak, awas jangan main di situ, di situ tempatnya Senggawangan” atau anak anak yang berteriak “eh, kayanya ada yang nyenggol kaki saya” berpikir kakinya tersentuh Senggawangan lewat padahal mungkin hanya dorongan sampah kayu yang lewat ketika dia berenang.

 Kita juga akan rindu dengan pesan untuk hanya mengambil ikan secukupnya di sungai, menyisakan untuk jatah makanan Senggawangan, bukannya malah mengambil sebanyak banyaknya dengan racun putasium / tuba yang mematikan semua biota sungai sampai ke telur telurnya, dan merusak sungai sebagai sumber daya air bersih.

 Ternyata Konservasi bukan sesuatu yang baru, ternyata prinsip dasar konservasi telah dilakukan di Ciliwung oleh orang orang tua kita jaman dulu.
 Penemuan kembali Chitra chitra javanensis berumur lebih dari ratusan tahun yang masuk daftar merah terancam punah oleh Badan Konservasi Internasional IUCNmemberi peringatan kepada kita bahwa kita harus memulihkan kembali sungai Ciliwung.

 Pemulihan sungai di beberapa negara lain, keberhasilannya pemulihan ekosistem sungai di tandai dengan kembalinya spesies-spesies yang dulu pernah hilang, satu persatu kembali ada dan bertambah. Dan bagaimana dengan Sungai Ciliwung kita, darimana kita harus memulai…?
 Selamat Hari Ciliwung, Mari Kita Selamatkan yang Tersisa…..

  Hari Ciliwung 11 November 2012 “Konservasi Ekosistem Ciliwung, Selamatkan Yang Tersisa”.

11 November 2012  pukul 08.00-16.00
  Pusat Kegiatan : Komunitas Ciliwung Bojonggede(cp:Agnes 0896 3812 3071 )
 Jl. Haji Wahid - Kampung Glonggong Jembatan Parges Desa Kedung Waringin - Bojonggede Kabupaten Bogor - Jawa Barat. 16320

  Tujuan Penetapan Hari Ciliwung
1. Meningkatkan kepedulian warga tepi Ciliwung untuk menjaga kelestarian sungai
2. Media pembelajaran warga hulu hilir aliran Ciliwung akan pentingnya menjaga ekosistem Ciliwung
3. Ajang sosialisasi warga Ciliwung hulu hilir untuk bertukar gagasan dalam hal upaya pelestarian Ciliwung
4. Upaya mengajak pemerintah lintas propinsi untuk bersama menjaga kelestarian Ciliwung dari sisi kebijakan

  Bentuk Kegiatan
1. Mulung sampah Ciliwung
2. Dongeng di Ciliwung
3. Pameran Komunitas
4. Launching maskot Ciliwung
5. Rembug Ciliwung bersama pemerintah dan masyarakat
6. Pemutaran dan diskusi film lingkungan
7. Pameran foto Ciliwung
8. Lomba gambar dan mewarnai
9. Tubing di Ciliwung
10. Magic Ciliwung
11. Design poster kampanye penyelamatan Ciliwung
12. Helping Hands for Ciliwung
13. Surat anak Ciliwung
14. Pameran jenis ikan asli Ciliwung
15. Santap masakan asli Ciliwung
16. Live music tepi Ciliwung
17. Jelajah kampung Glonggong
18. Tanam Pohon

 Informasi Selengkapnya:
CP : Sudirman Asun 021- 711 402 77 (Flexi)
 Abdul Kodir 0813 8074 8996

 atau Kunjungi Blog Resmi Hari Ciliwung http://ciliwunginstitute.blogspot.com/

 Fun Page Ciliwung Institute di Facebook :
http://www.facebook.com/ciliwungnationalpark/

 Akun Twitter : @ciliwungnatpark Time Line #HariCiliwung1111

Hari Ciliwung 11 November

Dari stasiun Bojonggede naik angkot 07 arah cilebut (500 M) turun di depan Jl. Haji Wahid jalan kaki masuk ke arah Sungai Ciliwung. Atau naik ojek 5 ribu rupiah, bilang kampung Glonggong. CP : Agness Indah Pratiwi 0896 38123 071

Jumat, 26 Oktober 2012

Lomba Anak Ciliwung Menulis Surat Untuk Presiden #HariCiliwung1111

Adik-adik apa kabar? Ada yang kenal dengan Sungai Ciliwung? Pernah bermain di Ciliwung? Menurut adik-adik, airnya bagaimana? Apakah airnya bisa langsung kita minum? Pada zaman dahulu, air Sungai Ciliwung bisa diminum lho? Coba kalau sekarang airnya kita minum. Bisa-bisa bikin kita sakit perut.

Dalam rangka Peringatan Hari Ciliwung, kakak mengajak adik-adik, untuk menceritakan keadaan Ciliwung kepada bapak-bapak pemimpin bangsa ini. Cerita disampaikan dalam bentuk surat. Isinya harus sesuai dengan tema “Harapanku untuk Masa Depan Ciliwung.” Adik-adik bisa menuliskan apa saja mulai dari ide, pertanyaan atau bahkan laporan tentang Ciliwung saat ini. Mungkin kalian punya ide bagaimana caranya supaya sungai kita bisa bersih dan indah.. atau malah kalian bingung bagaimana membuat sungai-sungai kita menjadi bersih dan indah…??? Nah, kalau begitu yuk, kita menulis surat untuk Presiden kita.
Dalam rangka Peringatan Hari Ciliwung pertama kali pada tanggal 11 November 2012, Surat kamu boleh berisi ide,pertanyaan atau bahkan sekedar untuk memberitahukan keadaan sungai kita ini.. Ayo ikutan Lomba Menulis Surat Untuk Bapak Presiden Tentang Sungai Ciliwung, sungai terbesar di Ibukota Indonesia. Lomba bertemakan “Harapanku Untuk Masa Depan Ciliwung”

Syarat dan ketentuan lomba:
- Peserta Anak Indonesia max umur 14 tahun (cantumkan identitas)
- Tulisan dalam bentuk tulisan tangan max 250 kata / setengah halaman buku tulis
- Tulisan di scan dalam bentuk (pdf/jpeg) dan dikirim ke hariciliwung@gmail.com
atau surat ( pojok kanan atas tulis “Surat Anak Ciliwung”) dikirim atau diantar langsung ke alamat:

* Komunitas Ciliwung Condet ( cp : Istohari Syukur 0813 1674 0855)
Jl. Munggang No. 6 rt/rw : 10/02 Condet Balekambang (pangkalan bambu)
Kramat Jati - Jakarta Timur 13530

* Komunitas Ciliwung Bojonggede (cp: Agnes 0896 3812 3071 )
Jl. H. Wahid - Kampung Glonggong
rt/rw : 03/05 No. 11
Desa Kedung Waringin - Bojonggede
Kabupaten Bogor - Jawa Barat. 16320

- Tulisan paling lambat diterima panitia Tgl. 3 November 2012 (penutupan)
- Penyeleksian akan dilakukan oleh Relawan Ciliwung dan tidak bisa diganggu gugat.

Surat yang diterima akan dibundel jadi satu dan disampaikan kepada BapakPresiden RIGubernur DKI Jakarta dan Gubernur Jawa Barat sebagai pengambil kebijakan pengelolaan sungai.

3 Surat terbaik dan terunik dari penilaian Juri akan dibacakan pada Acara Hari Ciliwung 11 November 2012 dan disampaikan di depan Menteri Lingkungan Hidup di lokasi ( dalam undangan), akan mendapat hadiah dan sovernir menarik dari Panitia #HariCiliwung1111 keterangan lebih lanjut hubungi:
hariciliwung@gmail.com
atau kunjungi kami di :

fun page facebook :
Ciliwung Institute : http://www.facebook.com/ciliwungnationalpark

blog resmi #HariCiliwung1111 : http://ciliwunginstitute.blogspot.com/

Hari Ciliwung 11 November 2012 #HariCiliwung1111

Chitra Chitra Javanensis Kemunculan spesies langka asli Sungai Ciliwung yaitu Bulus Raksasa, masuk Red List International Union for Conservation of Nature - IUCN-Sumber Foto : Demotix
Issue Konservasi dari Menggagas Peringatan Hari Ciliwung 11 November Semakin bertambahnya penduduk yang signifikan di kantong kantong penduduk di sepanjang Ciliwung terutama daerah perkotaan telah menyebabkan penurunan kualitas dan kerusakan lingkungan sungai makin tidak terkendali dan memberikan tekanan besar beban untuk ekosistem Ciliwung.
Alih fungsi lahan, pencemaran air oleh limbah industri
, limbah organik, pestisida pertanian telah membuat banyak spesies biota dan keberagaman vegetasi yang satu persatu terus menghilang dan punah dari Habitat Ciliwung.

Mengangkat Issue Konservasi dan Suaka Untuk Sungai Ciliwung dengan Hari Ciliwung 11 November

Ada Apa Dengan 11 November 2011
Kemunculan spesies langka asli Sungai Ciliwung yaitu Bulus Raksasa (Chitra chitra javanensis)
Bulus / Phik yang telah berumur ratusan tahun ini oleh warga Ciliwung disebut Senggawangan.
Oleh karena ukurannya yang raksasa dipercaya telah menjadi setengah gaib (hewan siluman).

Kearifan lokal bahwa siapa yang menangkap hewan ini akan jatuh sakit atau akan tertimpa bencana sedikit banyak telah membantu konservasi satwa/program penangkaran satwa yang masuk Red List International Union for Conservation of Nature (IUCN) yaitu sangat terancam punah karena jumlahnya hanya belasan atau tidak mencapai 10 ekor jumlah populasinya.
dan Red List 2006. Dan, dalam daftar Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) Appendix II.
Saat ini, status Chitra chitra javanensis di Indonesia dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 Tahun 1999 .

Pakar herpetologi Sekolah Ilmu dan Teknologi Institut Teknologi Bandung, Djoko Tjahjono Iskandar, mengatakan, bulus raksasa Ciliwung (Chitra chitra javanensis) sudah ditemukan sejak seabad lalu.
“Kalau ada yang mengatakan ini piaraan yang lepas atau introduksi pasti itu salah. Sebab, bulus ini ditemukan pertama kali tahun 1908,” kata Djoko.
Penemuan pertama tahun 1908, kata Djoko, mendapatkan dua individu. Satu individu kemudian disimpan di Museum Biologi Bogor dan satu lagi disimpan di salah satu museum di Jerman.
Setelah penemuan pada tahun 1908 tersebut, sangat sedikit laporan penemuannya. Penemuan selanjutnya baru dilaporkan 70 tahun kemudian, tahun 1971 dan 1973.
“Nah yang ditemukan tahun 1971 dan 1973 itu ada tiga ekor totalnya,” kata Djoko saat dihubungi Kompas.com, Kamis (17/11/2011).
Penemuan bulus raksasa Ciliwung ini menambah rekam data yang diungkapkan pakar herpetologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Mumpuni, yang mengatakan, bulus raksasa pernah ditemukan di Radio Dalam dan Tanjung Priok pada tahun 1980-an.
Penemuan terakhir bulus raksasa ini pada Jumat (11/11/2011). Bulus raksasa yang ditemukan di wilayah Tanjung Barat, Jakarta Selatan, ini memiliki ukuran 140 x 90 cm dan berat 140 kilogram.
Dengan sejarah penemuan tersebut, ilmuwan yang pernah meraih Habibie Award di Bidang Ilmu Dasar tahun 2005 itu meyakini, Ciliwung memang habitat Chitra chitra javanensis.

Penemuaan Senggawangan pada tgl 11/11/11 oleh penangkap bulus di Tanjung Barat membuktikan bahwa Konservasi Sungai Ciliwung perlu segera dilakukan.
Senggawangan dengan ukuran panjang 1,5 M dan bobot 140 kg, ditemukan berjumlah 2 ekor (1pasang) dan diperkirakan telah berumur ratusan tahun.

Haji Zaenudin Bombay yang membeli bulus tersebut dari para pencari bulus di Ciliwung pekan lalu, akhirnya memutuskan melepas binatang tersebut ke Kali Ciliwung, pada Rabu (16/11/2011) dini hari.


artikel lengkap Bulus Raksasa di Ciliwung silakan klik:
http://konservasidasciliwung.wordpress.com/kenakeragaman-hayati-ciliwung/bulus-raksasa/

Sumber Foto : Demotix http://www.demotix.com/news/1134207/giant-asian-narrow-headed-softshell-turtle-measures-130-centimeters#media-1134198

Apa yang Terjadi pada Sumber Air Minum Kita..?

Intake PDAM di Ciliwung Pejaten Timur berhenti beroperasi sejak 20 tahun yang lalu

Apa yang terjadi pada sumber air minum kita..?
Apa yang terjadi dengan sungai kita Ciliwung…?

Intake PDAM di Pejaten Timur ini sudah tidak beroperasi hampir 20 tahun lebih lamanya… Bahan baku air Sungai Ciliwung tidak layak lagi untuk dimanfaatkan, Polusi airnya terlalu tinggi baik cemaran kimia maupun cemaran organik. Aliran Ciliwung dikategorikan “Baku Mutu Air Kelas 4″ yg berarti Tercemar Berat , Hingga Tidak ada Klasifikasi Kelas karena kompleknya dan kentalnya bahan pencemar.

Sumber penggunaan bahan baku air Ciliwung oleh PDAM terkhir ada di daerah Ciliwung Depok Citayam. Sedangkan untuk Jakarta masih menggantungkan bahan baku air dari Kali Krukut dan Kali Malang Sungai Tarum Barat.

Dari 13 sungai di Jakarta, hampir sebagian besar tidak bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku sumber air. Sumber daya air permukaan rusak karena buruknya pengelolaan sistem.

Jakarta terancam tenggelam karena eksploitasi berlebihan sumber air tanah, imbas dari kegagalan memelihara sungai sebagai sumber daya air permukaan.

Kita lebih meributkan kenaikan BBM beberapa rupiah daripada memikirkan bahwa air minum yang kita harganya hampir menyamai 1 liter bensin.

Alam adalah keseimbangan, sudahkan kita bertindak adil kepada alam..? sudahkah kita memelihara sumber air kita sungai..? Berapa kerugiaan investasi PDAM ini karena tidak beroperasi..?,
Berapa kerugian masyarakat sebagai konsumen yang harus membayar mahal air bersih karena mahalnya biaya pengelolaan air dengan baku mutu kelas 4 Ciliwung, berapa biaya kesehatan hidup yang harus kita bayar karena air yang kita konsumsi , penurunan kualitas Sumber Daya Manusia karena air yang kita minum.

Harapan ke depan Intake PDAM di Ciliwung Pejaten Timur - Jakarta Selatan ini dapat kembali beroperasi. Lebih banyak lagi masyarkat kita terjangkau oleh air bersih yang lebih murah.
#StopSedotAirTanah

Sabtu, 15 September 2012

Teknologi Rekayasa Pengelolaan Air Sungai Ada di Jakarta


Report dan Foto: Sudirman Asun 


Tidak ada yang mahal ketika kita, pengusaha bertanggung jawab dengan limbah dan lingkungan terdekat kita.
Terdengar miris memang, ketika kita mengetahui begitu besarnya uang yang beredar di Jakarta, tapi lingkungannya terutama sungainya rusak runyam oleh pembangunan itu sendiri.
Jakarta dengan teknologinya, Jakarta dengan orang orang pintarnya, “apakah ngaruh…?”.

 Begitu kotornya Sungai Ciliwung, begitu kumuhnya Sungai Kota Jakarta, itu yang selalu media gambarkan untuk sungai mereka. Hampir seperti tidak ada gambaran bagus tentang bagaimana membayangkan seharusnya sungai suatu perkotaan maju, Kota Jakarta Ibukota Indonesia.

 Sampai suatu ketika saya diajak oleh seorang kawan untuk melihat yang katanya Sungai Jakarta yang ada ikan mas nya, “Ah yang benar Pak Sahroel, masa ada ikan masnya, kok bisa hidup?” saya makin penasaran ketika ditambahi bahwa ini adalah sungai tercantik di Jakarta.

 Sambil berjalan kaki ke lokasi karena memang benar sungai ini terletak tidak jauh dari Gedung BPLHD di daerah Kuningan tempat pertemuan acara kegiatan sungai, cuman satu belokan.
 Memang sungguh takjub melihatnya, Indah dan cocok untuk kota sekelas Kota Megapolitan Jakarta. Sungai berair bersih dengan ikan ikan hias berenang dengan sehat, dilengkapi dengan taman dan tempat berjalan kaki yang nyaman dan bersih, banyak muda mudi duduk santai ngobrol di taman pinggir sungai. Ikan yang hidup dengan sehat, indikator bahwa airnya cukup bagus dan kaya oksigen.

Kontras dengan sungai sungai yang sehari hari saya lihat di kotaku, “ohhhh…, mungkin ini nih, yang Bu Niniek gambarin ke dalam mimpi saya, sungai yang beliau ceritakan ketika di luar negeri.”

 “Indahkan?, tapi coba ntar sampai ke ujung sungai ini.” Ujar Pak Sahroel sambil memandang mengamati lengak lengok ramainya ikan mas yang berenang bebas di sungai ini, berwarna warni. Ternyata memang ada ujungnya, ketika saya ditunjukan sungai indah ini berakhir bertemu kembali ke bentuk sungai aslinya, saluran kotor cukup banyak sampah, berair hitam pekat dan bau seperti sungai Jakarta pada umumnya.

 Sungai ini tidak panjang lebih kurang hanya berkisar 500M ,memang sekilas mirip sungai, tapi ketika dilihat lebih seksama, ternyata lebih bisa dikategorikan kolam panjang/kanal penampungan air daripada bisa disebut sungai.

 Dibangun diatas aliran lamanya yang mengalir dibawah dan dijadikan dalam dua aliran kiri kanan, kolam panjang ini dibangun diatasnya melenggok dengan indah, lengkap dengan empat pintu air (dua di masing masing ujung kolam/kanal) sebagai pengontrol debit air jika keadaan darurat.

 Biarpun belum bisa disebut sungai karena airnya hampir tidak mengalir kecuali musim hujan, yang saya kagumi dari semua ini adalah teknologi pengolahan dan pemanfaatan air sungai kotor tercemar menjadi air yang layak untuk ikan hidup. Air sungai aliran lama yang bau dan hitam pekat di olah dalam beberapa bak bak pengolahan di lahan sempit pinggir trotoar jalanan.

 Dengan bantuan bakteri pengurai dan pemakan limbah organik, air dinetralisir pencemarnya dan ditambahkan dikayakan dengan oksigen sehingga layak dan aman untuk biota seperti ikan. “Ini adalah bakteri yang sengaja dibiakan” begitu penjelasan Mas Djoko yang bertugas mengontrol pengolahan air limbah sungai ini, untuk memakan limbah dan pupuk untuk bakteri ini cukup urea dan NPK apabila bakteri terlihat susut dan tidak sehat (persentase jumlah bakteri bisa dilihat dari endapan air bakteri yang sengaja dibiakan dalam 1 kolam khusus. Dengan bantuan pompa dan mesin mesin yang bisa dikendalikan dalam satu panel, air sungai yang diendapkan dicampur dengan air berbakteri, bakteri inilah yang bekerja memakan polutan dan menetralisirnya, setelah residu polutan berkurang, air tersebut disaring dengan pasir silika dan diperkaya kandungan oksigennya baru dialirkan dipompa ke dalam sungai buatan tersebut.

 “Selain teknologi pengolahan bahan baku air sungai tercemar ini, kolam ini juga dilengkapi dengan teknologi Solar Bee yang bekerja dengan energi green dari panel surya untuk mencegah air sungai baru ini berlumut” saya sangat berterimakasih dengan panjang lebar dan senang hati saya dijelaskan teknologi cara kerja kolam ini. Menikmati sungai ini saya berangan angan, mungkinkah teknologi ini diterapakan di sungai sungai kecil Jakarta yang bermuara ke Ciliwung, sungai sungai kecil bermasalah seperti aliran limbah Kali Baru sepanjang Jalan Raya Bogor yang bermuara di Ciliwung Cililitan.

Rasanya ngin berlama lama di tempat ini, namun akhirnya matahari sore itu mengantarkanku memaksa langkah ini harus kembali pulang ke rumah, sebersit harapan tumbuh lagi untuk Sungai Kota Jakartaku…… Suatu hari nanti…….

  Report dan Foto: Sudirman Asun

Sungai dengan taman

Taman dan tempat berjalan kaki yang nyaman dan bersih, banyak muda mudi duduk santai ngobrol di taman pinggir sungai.

Sungai ini tidak panjang lebih kurang hanya berkisar 500M ,memang sekilas mirip sungai, tapi ketika dilihat lebih seksama, ternyata lebih bisa dikategorikan kolam panjang/kanal penampungan air daripada bisa disebut sungai.

Sungai Yang Bersih

Ikan yang berenang sehat diantara Solar Bee

aktivitas asyik santai dan ngerumpi di pinggir sungai

Taman dengan area resapan air

pengolahannya hanya menggunakan beberapa bak pengolahan dalam lahan yg sempit di pinggir jalan, memanfaatkan air sungai hitam di sampingnya yg bau menjadi air yg cukup layak menghidupi ikan

Sungai asli mengalir di kiri kanan sebelah bawah, bertemu kembali ke bentuk sungai aslinya, saluran kotor cukup banyak sampah, berair hitam pekat dan bau seperti sungai Jakarta pada umumnya

Intake BahanBaku Air Kolam dari Aliran Sungai Lama Yang Tercemar, tampak Di Foto Aliran Lama Mengalir Di bawah kiri kanan Sungai Rekayasa yang dibangundiatasnya.

Bak Pembiakan dan Pemeliharaan Air BerBakteri Yang Membantu Penguraian dan Menetralisir Limbah.

Pencampuran Air sungai tercemar dengan air berbakteri, tampak air sungai berwarna agak bening karena sudah diendapkan, dan air berbakteri yang berwarna coklat keruh.

Air Yang Sudah Diolah Dialirkan Ke Dalam Sungai Baru Yang Telah Direkayasa

Dari Bak Bak inilah, Air Sungai Diolah dengan teknologi bakteri dan Dikayakan dengan oksigen.

Kamis, 30 Agustus 2012

Selamat Hari Raya Idul Fitri


Seperti sungai tak pernah lupa
akan jalan kembali "pulang" menuju samudera

Dengan Keikhlasan
memberi kehidupan semua tempat yang dilaluinya....


Selamat Hari Raya Idul Fitri
1 Syawal 1433 H

Mohon Maaf Lahir dan Bathin.....

Keluarga Besar Komunitas Ciliwung



foto : Ciliwung Masjid Istiqlal


Komunitas Ciliwung dari hulu-hilir mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri, bersama kita bangun kebiasaan baru untuk kemenangan dan mewariskan kebenaran untuk anak cucu kita.












Jumat, 17 Agustus 2012

MERDEKA…!


Apakah kita sudah merdeka dalam arti sesungguhnya…?
67 tahun kita merdeka, tapi tujuaan dan cita-cita dari didirikannya negara Republik Indonesia masih jauh harapan dengan kenyataan….

Apa yang salah dengan negara kita..?
Kesenjangan sosial yang kian menganga, keadilan hanya milik yang berani membayar…
Sumber daya alam dikeruk massif oleh perusahaan asing, korporasi kapitalis tanpa tetesan hasil yang memadai buat mengangkat kesejahteraan sosial.
Sebaliknya, yang lebih sering kita saksikan adalah konflik, tawuran, dan amuk massa yang menelan korban jiwa tidak sedikit.
Pancasila tinggal pajangan di dinding sekolah dan perkantoran…, 5 sila hanya hafalan kosong dalam pelajaran sekolah yang kemudian dilupakan… 
Pancasila disisihkan dari kehidupan berbangsa-bernegara—digantikan dengan individualisme-liberalisme yang membentangkan karpet merah bagi kapitalisme—kini kita saksikan dengan kasatmata terkikisnya nilai-nilai luhur budaya bangsa.
Sebutlah seperti kekeluargaan, persaudaraan, gotong royong, toleransi, dan norma etika ketimuran.
 

PEMBUKAAN UUD 1945
“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu,
maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

 “Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.”

 “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.” 

“Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial,
maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada :
Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”

 
MERDEKA…! 
DIRGAHAYU 67 TAHUN KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA

Senin, 13 Agustus 2012

Ciliwungku Hari Ini


(Oleh : Nur FaizahRasyid Sekolah Alam Ciliwung )

Hari minggu yang cerah di akhir bulan Juli yang ceria. Sorak sorai kemeriahan menggaung dari Sabang sampai Merauke.
Tak terkecuali di Jakarta.

Ramainya takbir yang penuh haru berbaur dengan bisingnya pasar kaget yang tumpah ruah di setiap sudut Kota Jakarta.
Riuhnya Jakarta yang sibuk pun menutupi suara tangis lirih di ujung jalan..

Bukan tangis bahagia menyambut Ramadhan.
Ini tangisan kepedihan, rintihan patah hati yang begitu lirih hingga tak sampai menggetarkan gendang telinga.

Yang menangis adalah Ciliwungku.
Ciliwungku yang sedang sakit. Raga dan jiwa nya terluka..

Raganya terluka oleh limbah yang membuatnya menghitam.
Terluka oleh sampah yang menggenang di permukaan nya..
Terluka oleh kerakusan para pengusaha yaang memperkosanya sedemikian rupa.
Terluka oleh petinggi negara yang menjadikannya kambing hitam proyek-proyek yang menggembungkan kantong mereka!

Ia merintih pilu menyenandungkan kenangan masa lalu.
Kala keanggunannya membuatnya seperti seorang ratu..
Kenangan kala kegagahannya bagai prajurit yang menang dalam perang!

Namun kini jiwanya terguncang, ia sedang patah hati.
Di tatapnya manusia-manusia yang dicintainya satu-persatu hilir mudik di sisinya tanpa menghiraukan keberadaannya.
Tak jarang mereka memandang jijik ke arahnya!
Memandang Ciliwungku dengan enggan!
Hey, manusia-manusia sombong! Tak sadarkah kamu, kalau kamu yang melukaiku? Tak sadar bahkan dalam kesakitanku kamu masih membutuhkanku!
Teriakan Ciliwungku yang malang tak ditanggapi.

Ciliwungku terluka. Ia merintih sendiri dalam duka..

Diujung matanya menangkap bayangan matahari yang mulai meredup.

Dihatinya tersisip harapan kecil yang mulai bertunas, kala ia melihat kami berkumpul disisinya untuk mengobati luka hatinya.
Ia sadar, ia tak sendiri.
Ada kami, segelintir orang yang tetap mencintainya.
Ya, ia belum mau mati, ia akan bertahan..

Ooh Ciliwungku..
Ia memang tak secantik dulu..
Keriput-keriput tua sudah mulai mengganggu keelokkannya..
Namun kami masih mencintainya.
Kami masih mencintai Ciliwungku yang cantik..

-faizah, 29072012. 22:38wib-

Sampah dari Kali Induk yang setiap hari bermuara ke Sungai Ciliwung Cililitan. ( Fotografer : Alan Agus Jaelani 9 Juli 2012) Kali Induk merupakan aliran sungai kecil yang berhulu di Pasar Rebo, Pasar Induk Kramat Jati, dan daerah Rumah Sakit Umum Daerah Pasar Rebo.

Generasi Muda Menatap Nasib Sungai Mereka Sepertinya Negara Tidak Hadir serta Melakukan Pembiaran Pengrusakan Sungai masa Depan Mereka Limbah Industri hitam terekam Minggu 29 Juli 2012 Pukul 13.00 di Ciliwung Condet , hal ini berlangsung sudah dalam 2 bulan ini setiap 2 hari sekali. Diduga sumber buangan limbah pabrik dari daerah Cimnaggis dan Cipayung Depok.

Sampah Kali Induk yang bermuara di Muara Ciliwung Cililitan 29 Juli 2012. Berdasarkan informasi warga diduga adalah buangan dari Pasar Induk Kramat Jati, dan hal ini berlangsung setiap hari bercampur limbah cair industri yang berwarna Hitam Pekat.

Minggu, 12 Agustus 2012

Trip Ciliwung Bersama Offroaders “Everything Four Wheel Drive”

Komunitas Ciliwung Everything Four Wheel Drive (Foto : Taufiq Des)

(Reportase : Nur FaizahRasyid : Sekolah Alam Ciliwung) 

Kamis, 5 juli 2012 tiba-tiba saya mendapatkan sms dari bang kodir yang berupa ajakan untuk susur sungai ciliwung. Tentu saja saya langsung bersemangat menyetujuinya tanpa banyak bertanya. Bahkan saya yang saat itu sedang berada di bandung dan berencana untuk meneruskan holiday trip saya ke jogja dan semarang langsung memutuskan untuk pulang dan ikut susur sungai. Kami diminta berkumpul di basecamp pukul 7 pagi minggu, 8 juli 2012.

Tibalah hari yang saya tunggu-tunggu, dengan sedikit tergesa dan takut ditinggal, saya meluncurkan motor saya kesana dengan cepat. Tapi saya kaget sesampainya saya di basecamp, tempat itu masih sangat sepi. Bahkan ada beberapa orang yang masih asyik terlelap di saung. Saya pikir saya telah dikerjain nih oleh Bang Kodir. Tapi ternyata tidak, selang satu jam kemudian datanglah tamu yang tidak saya duga. Rombongan komunitas Everything Four Wheel Drive yang terdiri dari beberapa pria tampan –yang sudah beruban- ternyata ikut meramaikan kegiatan susur sungai kami hari itu. Asal tau saja, komunitas ini merupakan komunitas para offroader keren yang terkenal dengan jeep-jeep seksinya. Di pikiran saya sudah mulai berkecamuk beberapa hal seru yang mungkin akan kami lalui saat susur sungai (saat itu saya masih tidak tau rute susur sungai kami).

Setelah dengan lahap (dan sedikit kalap) menyantap nasi uduk dan sambel kacang, para bapak-bapak keren itu mulai sibuk mondar-mandir ngga jelas. Saya sempat mencuri dengar obrolan mereka. Ternyata susur sungai kami hari ini bukan dimulai dari ciliwung condet, namun kami akan naik jeep (saya ulangi biar lebih dramatis) KAMI AKAN NAIK JEEP menuju depok dan start susur sungai kami dari depok. Wah, mendengar itu saya langsung makin semangat. Ini akan jadi pengalaman pertama saya naik jeep.
Setelah melakukan briefing singkat dan me-loading 2 perahu karet dan 1 kano ke atas mobil-mobil jeep(keren) itu, kami pun berangkat.

Rombongan kami terdiri dari 4 mobil jeep. Saya masuk ke dalam mobil jeep putih dengan atap tertutup yang di ‘tunggangi’ oleh Pak Najib. Sedikit cerita tentang Pak Najib, beliau ini pria berwajah preman namun berhati hello kitty. Beliau sangat low profile, baik hati dan berjiwa sosial. Sepanjang perjalanan beliau bercerita tentang komunitasnya, tentang bengkel jeep miliknya, juga tentang anak laki-lakinya yang memenangkan lomba offroad yang diadakan di Bangka Belitung. Saya, Bang Isto, dan Pak Haji Royani antusias mendengar cerita serunya. Perjalanan ke Depok terasa seru, dan saya serasa jadi miss Indonesia karena semua mata tertuju pada mobil-mobil keren yang kami naiki *hahahaha*. Sampai di tempat tujuan ternyata lokasi tidak memungkinkan kami untuk menurunkan perahu karena tidak adanya akses yang memadai untuk sampai di sungai.

Akhirnya Pak Najib mengajak kami ke daerah dekat rumahnya yang memang masih sekitar daerah aliran Sungai Ciliwung. Menurut beliau disana akses turun ke sungai lebih landai. Namu sesampainya kami di tempat tersebut kami dikejutkan oleh kondisi sungai di daerah Depok tersebut. Air sungai tersebut berwarna hitam pekat tanda sudah tercemar berat, dan baunya …uuuffffttttt… membuat kami kompak menutup hidung. Bang kodir “the man of Ciliwung” tentu saja tidak bisa tinggal diam. Ia dan pasukannya lantas menelusuri asal limbah tersebut. Pak Najib dengan sigap langsung menjemput ketua RT setempat untuk turut serta dengan kami. Akhirnya setelah bertanya-tanya kami bertemu dengan salah satu tetua disana dan mendapatkan informasi kalau limbah tersebut berasal dari pabrik ban sepeda. Kami geram sekali mendengarnya. Akhirnya kami mengambil sampel air dan membuat berita acara terkait hasil temuan kami untuk nantinya di laporkan kepada pihak-pihak terkait.

Ketegangan berakhir, senyum dan canda kembali menghiasi perjalanan kami. Melihat kondisi sungai yang begitu hitam legam dan berbau busuk, kami enggan untuk turun disana. Akhirnya perjalanan kami lanjutkan lagi, saya kembali menaiki mobil seksi milik pak najib yang bernama Bangor the Conqueror, bangor sang penakluk ( aku meng-iya-kan dalam hati, karena mobil itu memang sudah menaklukkan hati saya. *hehehe).

Setengah jam kemudian kami para pasukan Ciliwung sampai di daerah Lenteng Agung. Tentu saja banyak anak-anak kecil yang mengerubungi kami untuk sekedar melihat atau bahkan ikut membantu menurunkan barang-barang kami. Kami seolah menjelma menjadi salah satu rombongan calon gubernur yang sedang ber kampanye, ibu-ibu sekitar ramai mengiringi kami sampai ke tepi sungai.

Setelah perahu-perahu kami sudah mengapung, dan semua barang sudah pindah ke dalam perahu kami pun bersiap untuk bertualang. Sayang sekali kawan-kawan kami dari Everything Four Wheel Drive tidak bisa turut serta nyemplung karena ada urusan lain yang harus mereka selesaikan. Setelah berpamitan dan berdadah-dadah ria, kami meluncur.

Mesin perahu kami beberapa kami membentur batu wadas karena air sedang surut. Perahu kami pun sering nyangkut di jeram-jeram yang ada di sepanjang aliran sungai sehingga berkali-kali Bang Oom dan Bang Oji turun untuk mendorong perahu kami *thanks a lot for them* * peluk ciumabang-abang*. Pernah satu kali saat saya sedang tidak siap pegangan, perahu kami menabrak wadas dan saya hamper saja nyemplung ke sungai, untungnya bang isto dengan sigap memegangi kaki saya *pelukbangisto*.

Saat melewati daerah kopassus Cijantung, perahu kami terhalang oleh beberapa jaring yang dipasang untuk menghalau sampah. Kami agak kerepotan dibuatnya, setelah kami melewati jaring-jaring tersebut, sungai ciliwung terlihat sangat bersih. Oh, rupanya di kopassus baru saja selesai acara yang dihadiri oleh Ibu Ani Yudhoyono, makanya diadakan kerja bakti ciliwung. Hal pertama yang terlintas di pikiranku adalah, lantas akan di kemanakan sampah yang telah terhalau jaring-jaring tadi? Apakah akan diangkat? Atau malah kembali dihanyutkan kembali ke sungai Ciliwung? Jadi kerja bakti tersebut hanya pencitraan saja? Jadi sebenarnya untuk siapa kopassus? Untuk siapa Ciliwung bersih? Untuk warga kah? Atau hanya untuk para petinggi Negara saat berkunjung? Miris sekali rasanya membayangkan hal tersebut.

Melewati jembatan TB.Simatupang aliran Ciliwung semakin dangkal, bukan karena batu wadas seperti sebelumnya, namun oleh timbunan sampah plastik di dasar sungai. Beberapa kali mesin perahu kami mati karena terlilit sampah. Namun masih dapat kutemui beberapa anak yang masih asyik berenang di air yang keruh tersebut. Semakin ke hilir, keadaan sungai semakin parah. Kanan-kirinya bukan lagi pohon, namun sudah banyak gunung sampah dan bukit beton. Memasuki wilayah Pasar Minggu, kedaaan makin memburuk. Air mulai menghitam, bau-bauan bercampur aduk. Bau bangkai hewan, bau sampah yang membusuk, dan bau asap hasil pembakaran sampah. Kami sampai harus menutup hidung agar tak mencium bau-bauan tersebut. Sesekali masih kudapati bapak-bapak yang berjejer di pinggir sungai memancing ikan dengan pancingan dan jaring ikan. Memancng mujaer, jawab mereka kala kutanya. Ciliwung ooh Ciliwung, dalam keadaan sakit pun kau masih saja memberi rezeki untuk mereka.

Tak terasa 2 jam sudah kami lewati di atas perahu. Basecamp Ciliwung sudah terlihat diujung mata. Beberapa anak dari Komunitas Kampong Kramat terlihat sedang bermain air di pinggir sungai. Mereka sesekali protes karena tidak diajak susur sungai. Sesampainya kami di basecamp dan naik ke saung atas, hidung saya sudah mulai ditarik-tarik oleh bau seap yang menggoda. Ternyata senampan nasi goreng sudah tersaji. Heeemmmm nyammiiihh..

Dan cerita hari itu tak habis-habisnya mengalir dari bibir kami. Tentang sampah, anak-anak yang berenang, dan tentang Ciliwung. Tentang Kopassus, tentang bapak-bapak berbaju cagub berbatik yang sedang pup, dan tentang ciliwung. Tentang air yang menghitam, tentang jeram-jeram yang kami lewati, dan tentang Ciliwung. Tentang berbagai bebauan, tentang pohon yang terbungkus sampah, dan tentang Ciliwung. Tentang Ciliwung, dan tentang Ciliwung. Tentang ciliwung dan untaian cintanya yang tak pernah habis untuk kami, bahkan dalam kesakitannya. Terima kasih Ciliwungku …….


Konvoi Menuju Ciliwung Depok

Bergerak Untuk Pemantauan Ciliwung dan Susur Sungai

Perempuan Tercantik Dengan Komunitas Ciliwung Condet, Komunitas Ciliwung Condet Pejaten, Komunitas Ciliwung Kampung Kramat

Pak Najib Menyiapkan Penurunan Perahu Kanu (Fotografer : Taufik Des )

Pencemaran Limbah Industri di Ciliwung Depok, dari informasi warga kuat dugaan bersumber dari Industri daerah Cimanggis dan Cipayung Depok ( Fotogrfer : Taufik Des Komunitas Ciliwung Kalimulya Depok)

Warga Mengeluh Tidak Adanya Sanksi Hukum Untuk Pelaku, Karena Pencemaran ini sudah berlangsung lama 3-4 kali dalam seminggu dan biasanya dibuang di pagi hari ( Fotografer : Komunitas Ciliwung Kalimulya Depok )

Pembuatan Berita Acara Pelaporan Warga Kecamatan Cimanggis Depok Atas Pencemaran Limbah Pabrik di Ciliwung.

Untungnya Jadi Fasilitator Sekolah Alam Ciliwung Selalu Dikerubunin Bocah, Anak anak lokal Ciliwung Depok membantu penurunan peralatan ke sungai ( Fotografer : Alan Agus Jaelani )

Akses Turun Ke Ciliwung Melewati Belakang Perkampungan

Menjadi Tontonan Hiburan Tersendiri bagi Warga Ciliwung Depok Yang Kesehariaanya Jarang Ada Keramaian Di Sungai Ciliwung.

Tersangkut Jaring Sampah Koppassus, Menjadi Persoalan Baru Ketika Jaring Ini Juga Menghambat Jalur Lalu Lintas Tradisional Tukang Rakit Getek Bambu di Ciliwung

Semoga dengan Ibu Negara Turun Ke Ciliwung, Sungai Ciliwung Dapat Kembali Bersih dan Lestari, Sungai Jakarta Indikator Indonesia ( Fotografer : Alan Agus Jaelani )

Menjadi Pengalaman Tak Terlupakan Wisata Ciliwung Edukasi Lingkungan Sungai.

Jumat, 22 Juni 2012

Parade Getek Pesona Ciliwung 2012 Peringatan HUT Jakarta ke- 485



  SAVE OUR CULTURE SAVE OUR NATURE

Peringatan HUT Kota Jakarta ke 485 di Sungai Ciliwung dan selamatan satu Tahun Kunjungan Wisata Ciliwung sejak diluncurkan Juni 2011


SAATNYA BETAWI KEMBALI Ke CILIWUNG

Betawi Tak Terpisahkan Dari Ciliwung, mulai dari Legenda si Pitung, Abang Jampang sampai Bang Ali Sadikin.Saatnya Betawi Kembali ke Ciliwung mengikat kembali tali persaudaraan di Ciliwung kampungnya orang Betawi, Sungainya Kota Jakarta.

 Pemutaran Layar Tancap di Komunitas Ciliwung Condet ( KCC), menyaksikan keindahan dan keajaiban alam, indahnya kelap kelip kunang kunang menjadi selimut keindahan Ciliwung.

 Apakah anda pernah membayangkan masih bisa menyaksikan kelap kelip kunang kunang diantara belantara beton Jakarta…?
 Memang seiring makain rusak dan memburuknya kondisi alam lingkungan Jakarta, banyak habitat hewan terutama serangga menghilang.
 Akan tetapi, di tepi bantaran Sungai Ciliwung Jakarta, tepatnya di kebun Komunitas Ciliwung Condet kita masih bisa menyaksikan keindahan dan keajaiban alam, indahnya kelap kelip kunang kunang menjadi selimut keindahan Ciliwung.
 Mari Kita memperbanyak lagi jumlah kunang kunang Ciliwung dengan menjaga sungai sebagai habitat alamiahnya…..

 Waktu : Sabtu 23 Juni 2012 Pukul : 08.00 - Selesai
 Tempat : Komunitas Sepanjang Ciliwung Jakarta
 - Komunitas Ciliwung Condet ( KCC)
 - Komunitas Ciliwung Kampung Kramat Cililitan
 - Komunitas Peduli Ciliwung Tanjungan Cililitan
 - Komunitas MAT PECI ( Masyarakat Peduli Ciliwung)
 - KPC Tanjung Barat - KPC Gang Buluh
 - KPC Pejaten Timur
 - KBC RawaJati
 - KPC Cawang
 - KPC Buaya Muara Cililitan

  Rundown Acara Parade Getek Pesona Ciliwung 2012

  08.00 WIB :PEMBUKAAN
Di Komunitas Ciliwung Condet (KCC)
Jl. Munggang No.6 RT. 10 RW.04 (Pangkalan Bambu)
Condet Balekambang- Jakarta Timur

 Doa keselamatan untuk kelancaran acara parade getek. Ketua BAMUS DKI Mayjend. Purn. H. Nachrowi Ramli dan pembukaan Pencak Silat ( Palang Pintu).

  8.20 WIB : Ramah Tamah
 Sarapan Pagi Khas Betawi, Pagelaran Seni Budaya Betawi, menyambangi stand- stand yang berisikan produk produk khas komunitas dan makanan khas Betawi.

  09.00 WIB :Pelepasan peserta PARADE GETEK
 yang dibuka oleh : Ketua Bamus DKI Mayjend. H. Nachrowi Ramli ditandai dengan petasan Khas Betawi, Marawis, Palang Pintu.

  09.00 WIB : Peserta Mengarungi Sungai Ciliwung
 Sepanjang jalan mengarungi Sungai Ciliwung peserta akan disambut oleh para komunitas -komunitas yang ada di bantaran Sungai Ciliwung dengan petasan dan setiap komunitas akan berantai mengarungi dengan getek rakit sambung menyambung.

 KEGIATAN KOMUNITAS SEPANJANG GETEK RAKIT BERJALAN 

 Dalam perjalanan mengarungi setiap komunitas akan mengadakan kegiatan- kegiatan seperti:
 - Kesenian Betawi : Marawis, Tanjidor, Tari- Tarian Betawi, Palang Pintu dll
- Stand Bazar -Lomba lomba mewarnai
-Petasan menyambut kedatangan Getek yang melewati setiap komunitas
- Pengobatan Gratis

  10.00 WIB
Workshop Daur Ulang Kerajinan Sampah Kertas Koran oleh Komunitas Cikiber di Komunitas Ciliwung Condet Pengenalan Lingkungan Sungai dan Games Anak anak 


12.30 WIB 
 Peserta akan tiba di komunitas MASYARAKAT PECINTA CILIWUNG (MAT PECI) MT. Haryono ( sebelah Careful MT. Haryono).


13.00 WIB ISOMAH 


Dilanjutan dengan Acara Launching Lagu Ciliwung Sambutan oleh Gubernur DKI Jakarta Bpk. Fauzi Bowo Dilanjutkan acara ramah tamah dengan Bapak Gurbernur, Foto foto bersama. Acara dilanjutkan dengan acara Seni Budaya Betawi Bazar Makanan Khas Betawi.


20.00 WIB 


 Pemutaran Layar Tancap Film Lingkungan serta menyaksikan keindahan dan keajaiban alam, indahnya kelap kelip kunang kunang menjadi selimut keindahan Ciliwung.
di Komunitas Ciliwung Condet ( KCC) 
Jl. Munggang No. 6 RT. 10 RW.04 Condet Balekambang Jakarta Timur. 


 Contact Person 
Abdul Kodir : 0813 8074 8996 
Oji : 0857 1993 0615 
Irfan A : 0812 9818 6708 
Usman : 0812 8653 0004 
H. Royani : 0816 1987 902 
Jack Muara 021 - 929 58513 / 0812 1896 6109