Entri Populer

Jumat, 26 Oktober 2012

Hari Ciliwung 11 November 2012 #HariCiliwung1111

Chitra Chitra Javanensis Kemunculan spesies langka asli Sungai Ciliwung yaitu Bulus Raksasa, masuk Red List International Union for Conservation of Nature - IUCN-Sumber Foto : Demotix
Issue Konservasi dari Menggagas Peringatan Hari Ciliwung 11 November Semakin bertambahnya penduduk yang signifikan di kantong kantong penduduk di sepanjang Ciliwung terutama daerah perkotaan telah menyebabkan penurunan kualitas dan kerusakan lingkungan sungai makin tidak terkendali dan memberikan tekanan besar beban untuk ekosistem Ciliwung.
Alih fungsi lahan, pencemaran air oleh limbah industri
, limbah organik, pestisida pertanian telah membuat banyak spesies biota dan keberagaman vegetasi yang satu persatu terus menghilang dan punah dari Habitat Ciliwung.

Mengangkat Issue Konservasi dan Suaka Untuk Sungai Ciliwung dengan Hari Ciliwung 11 November

Ada Apa Dengan 11 November 2011
Kemunculan spesies langka asli Sungai Ciliwung yaitu Bulus Raksasa (Chitra chitra javanensis)
Bulus / Phik yang telah berumur ratusan tahun ini oleh warga Ciliwung disebut Senggawangan.
Oleh karena ukurannya yang raksasa dipercaya telah menjadi setengah gaib (hewan siluman).

Kearifan lokal bahwa siapa yang menangkap hewan ini akan jatuh sakit atau akan tertimpa bencana sedikit banyak telah membantu konservasi satwa/program penangkaran satwa yang masuk Red List International Union for Conservation of Nature (IUCN) yaitu sangat terancam punah karena jumlahnya hanya belasan atau tidak mencapai 10 ekor jumlah populasinya.
dan Red List 2006. Dan, dalam daftar Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) Appendix II.
Saat ini, status Chitra chitra javanensis di Indonesia dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 Tahun 1999 .

Pakar herpetologi Sekolah Ilmu dan Teknologi Institut Teknologi Bandung, Djoko Tjahjono Iskandar, mengatakan, bulus raksasa Ciliwung (Chitra chitra javanensis) sudah ditemukan sejak seabad lalu.
“Kalau ada yang mengatakan ini piaraan yang lepas atau introduksi pasti itu salah. Sebab, bulus ini ditemukan pertama kali tahun 1908,” kata Djoko.
Penemuan pertama tahun 1908, kata Djoko, mendapatkan dua individu. Satu individu kemudian disimpan di Museum Biologi Bogor dan satu lagi disimpan di salah satu museum di Jerman.
Setelah penemuan pada tahun 1908 tersebut, sangat sedikit laporan penemuannya. Penemuan selanjutnya baru dilaporkan 70 tahun kemudian, tahun 1971 dan 1973.
“Nah yang ditemukan tahun 1971 dan 1973 itu ada tiga ekor totalnya,” kata Djoko saat dihubungi Kompas.com, Kamis (17/11/2011).
Penemuan bulus raksasa Ciliwung ini menambah rekam data yang diungkapkan pakar herpetologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Mumpuni, yang mengatakan, bulus raksasa pernah ditemukan di Radio Dalam dan Tanjung Priok pada tahun 1980-an.
Penemuan terakhir bulus raksasa ini pada Jumat (11/11/2011). Bulus raksasa yang ditemukan di wilayah Tanjung Barat, Jakarta Selatan, ini memiliki ukuran 140 x 90 cm dan berat 140 kilogram.
Dengan sejarah penemuan tersebut, ilmuwan yang pernah meraih Habibie Award di Bidang Ilmu Dasar tahun 2005 itu meyakini, Ciliwung memang habitat Chitra chitra javanensis.

Penemuaan Senggawangan pada tgl 11/11/11 oleh penangkap bulus di Tanjung Barat membuktikan bahwa Konservasi Sungai Ciliwung perlu segera dilakukan.
Senggawangan dengan ukuran panjang 1,5 M dan bobot 140 kg, ditemukan berjumlah 2 ekor (1pasang) dan diperkirakan telah berumur ratusan tahun.

Haji Zaenudin Bombay yang membeli bulus tersebut dari para pencari bulus di Ciliwung pekan lalu, akhirnya memutuskan melepas binatang tersebut ke Kali Ciliwung, pada Rabu (16/11/2011) dini hari.


artikel lengkap Bulus Raksasa di Ciliwung silakan klik:
http://konservasidasciliwung.wordpress.com/kenakeragaman-hayati-ciliwung/bulus-raksasa/

Sumber Foto : Demotix http://www.demotix.com/news/1134207/giant-asian-narrow-headed-softshell-turtle-measures-130-centimeters#media-1134198

Tidak ada komentar:

Posting Komentar