Entri Populer

Selasa, 01 November 2011

Susur Lanjutan Dengan Rakit, Mencoba Jalur Tradisional Pedagang Bambu Ciliwung 23 Juli 11 (Seri Tahun Kunjungan Wisata Ciliwung)


Susur Lanjutan Dengan Rakit, Mencoba Jalur Tradisional Pedagang Bambu Ciliwung


Foto&Tulisan: Sudirman Asun
“Dulu tahun 80′an tukang rakit Bojong selalu membawa dagangan bambu nya melalui Ciliwung untuk dijual di Pasar Minggu, 1 orang bisa sampai membawa 6 rangkaian rakit dan dibawa berkonvoi dalam kelompok beberapa orang.
Sekarang 1 orang bisa membawa 3 rakit saja sudah jago, sungai Ciliwung bertambah dangkal dan terjadi penyempitan sungai membuat medan sungai semakin sulit".

Percakapan kami dengan bang Udin Jibrut dan tetua di kampung Glonggong Bojong Gede inilah yang menambah ketertarikan Komunitas Peduli Ciliwung untuk mencoba susur lanjutan dengan mencoba mempergunakan perahu rakit bambu buatan pengrajin bambu Bojong Gede.

Agenda susur Lanjutan yang sedianya dilakukan awal bulan Agustus dimajukan menjadi Tgl. 23 Juli 2011, disesuaikan dengan teman-teman yang akan mengadakan ibadah puasa pada bulan Ramadhan.

Walaupun persiapan telah dilakukan dengan matang, rupanya pas hari-H nya kami mendapati banyak kekurangan dalam pengetahuaan kami tentang rakit bambu dan perhitungan musim kemarau yang otomastis mengurangi jumlah debit air di sungai menjadi lebih dangkal.

Persiapan dengan memesan pembuatan rakit bambu 2 minggu sebelumnya, ternyata bahan bambu yang kami pergunakan masih termasuk hijau dan belum kering. Tingkat kekeringan bambu ini sangat mempengaruhi daya apung rakit di air.

Banyaknya sambutan antusias para peserta untuk ikut tidak sebanding dengan jumlah rakit yang disediakan sebanyak 5 unit dan 1 perahu kano membuat acara susur di rakit dinaiki bergantian lewat rakit di air dan susur lewat jalan kaki di darat oleh para peserta.

Peserta susur rakit kali ini menyatu dari Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) dari Bogor, Komunitas Ciliwung Bojong Gede dan KPC Depok yang baru terbentuk serta Komunitas Ciliwung Condet.
Inilah daftar peserta susur rakit: Hapsoro (Komandan Susur), Hari Kikuk (data dan pemetaan), Rita Mustikasari (Program Air Telapak), Marine (mahasiswa asal Prancis), Vega Probo (Majalah Traveler), dari media kantor berita Kota Hujan hadir Agung dan Unisutiah, dari Jakarta Glue hadir Augusitina K.Priyanto (LPMJ) dan penggiat lingkungan Yayasan Lantan Bentala tercatat Evelyn Suleeman (Dosen Sosiologi UI ) dan anak didiknya Vieronica (Mahasiswi S2 Sosiologi UI ) dengan teman nya Edi, sedangkan pasukan rakit dan team SAR diawaki oleh pasukan Komunitas Ciliwung Bojong Gede (Husen, Udin Jibrut, Andre, Maulani CNB) dan pasukan Komunitas Ciliwung Condet (Abdul Kodir, Abdul Basid Dudung, Epi, Alex, Abdul Somad dan Edi).

Titik start susur dimulai dari desa Glonggong Bojonggede dibawah jembatan Pagersi.
Acara dibuka dengan peresmiaan terbentuknya Komunitas Ciliwung Bojonggede yang direstui oleh tetua desa pak Haji Yusuf dengan penanaman pohon langka yang sengaja dibawa dari Hutan Kota Condet yaitu pohon Lobi-lobi, Nam-nam, Tembolok, Jamblang, Gohok, Pucung, Duku, Salak, Gandaria dan Jingjing.

Penanaman pohon langka dibantaran ini bermaksud agar tetap menjaga kelestariaan daerah Bojong yang terkenal akan kekayaan potensi hutan bambu nya.

Walaupun terlihat masih asri dengan hutan bambunya, kawasan Ciliwung Bojong mulai terjadi kerusakan fatal dan penurunan ekosistem sungai oleh para tukang tuba/ peracun ikan. Kegiatan penuba ikan ini biasanya dilakukan oleh orang luar yang tidak bertanggung jawab yang dilakukan secara berkelompok dengan racun potasium dalam dosis besar dan dilakukan pada malam hari.

Diharapkan dengan berdirinya Komunitas Ciliwung Bojonggede ini sosilisai bahaya racun potasium bagi ekositem sungai dan pelarangan kegiatan menuba ini dapat dilakukan.

Keindahan Ciliwung Bojong sampai memasuki daerah Cilebut dengan kerimbunan hutan bambunya dan tantangan jeram nya yang seru membuat kami sangat menikmati kegiatan ini, banyak pelajaran dari alam dan kearifan lokal warga Ciliwung Glonggong yang menarik hati kami untuk kembali ke tempat ini.

Walaupun dengan susah payah membawa rakit dengan debit air yang dangkal oleh kemarau, disisi lain kemarau justru memberikan keindahan tersendiri karena membuat air Ciliwung terlihat jernih walaupun kami masih mendapati beberapa gunung sampah di daerah Puspa Raya.

Potensi Ciliwung dengan wisata Jeram dan keindahan Hutan Bambunya, kami berharap untuk ke depan lebih bisa diangkat untuk menggerakan perekonomian masyarakat lokal di sekitar bantaran Ciliwung.

Sesuatu hukum yang pasti, bahwa manusia pasti akan menjaga sesuatu yang bisa menghidupi dan memfasilitasi mereka, seperti mereka menjaga hutan bambu yang menjadi tumpuaan perekonomian mereka.

Susur kali ini berhasil memetakan dan mendata Ciliwung dari daerah Glonggong, Kedung Jiwa, Cibabi, Gandaria, Kedung Bokor, Kedung Cewug, Puspa Raya, meliputi Kelurahan Gedung Waringin, Kel. Sukahati, Kel. Pabuaran dan finish di intake PDAM Tirta Kahuripan kota Bogor di Jalan Pemda.


penanaman pohon langka yang sengaja dibawa dari Hutan Kota Condet


peresmiaan terbentuknya Komunitas Ciliwung Bojonggede desa Glonggong dengan doa restu tetua desa pak Haji Yusuf


susah payah membawa rakit dengan debit air yang dangkal oleh kemarau


Cengkrama dengan anak-anak Ciliwung


Tantangan Jeram Ciliwung


Rakit Tersangkut batu sungai, terpaksa turun dulu


Berakit-rakit dahulu, update status tak ketinggalan.


Iringan rakit dilihat dari atas ketinggian hutan bambu Bojong


Karena banyaknya peserta antusias ikut, naik rakitnya bergantiaan


nikmatnya menikmati makan siang di pinggir sungai


Team SAR Ciliwung Condet


Awas Jeram….., pegangan kuat-kuat…….!


Menarik perhatiaan warga Ciliwung


Gunung Sampah Puspa Raya, Dimana fungsi Lurah dan Dinas Kebersihan..?


Keindahan Ciliwung Dengan Hutan Bambunya.


“We can adventure not far from the city, that so fun.” Ujar Marine, mahasiswi asal Prancis yang mengikuti susur ciliwung.


Intake PDAM Kahuripan Kedung Halang Kota Bogor, dari sinilah sumber air buat kita ber wudhu, air buat kita minum, masih tegahkah kita mengotori sampah dan membuang limbah racun ke dalamnya..?


Pesimisme Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane, Kementerian PU, Imam Santoso. Hahaha, kalau sekarang sudah bisa menjadi tempat wisata. Tempat wisata tumpukan sampah. Bisa kan. Hahahaha..
(Itu pendapat kepala BBWSCC Imam Santoso tentang potensi wisata Ciliwung dan Bagaimana dengan pendapat anda..?)


Kami Komunitas Ciliwung dengan Impian Besar Kami Ciliwung Yang Lebih Layak Untuk Kita Semua, agar anak cucu kita bisa berbangga dengan org tua mereka yg mewariskan sungai yang sehat bagi mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar